Jumat, 01 Mei 2020

PENDAKIAN GUNUNG PRAU VIA PATAKBANTENG - DIENG
A PEAK OF THOUSAND HILLS
11 - 12 DESEMBER 2016

Area camp gunung Prau

Gunung Prahu (terkadang dieja Gunung Prau) berketinggian 2.565 mdpl terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Prau merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo. Bentuk gunung Prau itu seperti perahu terbalik, dan konturnya berbukit-bukit.

Sedikit drama sehari sebelumnya, yakni tanggal 10 saat keberangkatan. Bus Sinar Jaya relasi Baranang Siang - Mendolo Wonosobo dengan jadwal berangkat pukul 4 sore, dan ku yang baru pulang dari pabrik (izin pulang cepat) pukul 3 sore. Diperjalanan pulang diguyur hujan deras, dan teledornya perjalanan dari Citeureup (pabrik ku) ke Bogor - Jalan baru tanpa menggunakan jas hujan, karena sudah di packing di ransel. Tiba dirumah dengan kuyup pukul 15.45, ganti baju, langsung berangkat lagi menunu terminal. Ku baru tiba di terminal pukul 16.20, dan syukurlah kelompokku bisa melobi agen bus agar menunggu ku yang telat beberapa menit. Ku naik ke bus dengan sedikit omelan, dan bus pun langsung berangkat meninggalkan Bogor. Drama seperti film '5CM' dikehidupan nyata, gaspol pak sopir, telolet!!! 

Tim kami berjumlah 4 orang, yakni Puput Sopyan (kekasihku), Ruby kawan pendakianku ke Gede lalu, dan mas Imam Akbari kawannya Ruby.


MINGGU 11 DESEMBER 2016
Efek macet weekend atau efek ngaret menungguku ya, pukul 6 pagi bus baru tiba di Banjarnegara, biasanya subuh sudah tiba. Pukul 7 baru tiba di tujuan, terminal Mendolo Wonosobo. Rasanya ku sangat akrab dengan terminal ini, karena dalam 1tahun ku pulang-pergi kesini hingga 3x. Lanjut memesan tiket pulang esok hari, Sinar Jaya dengan tujuan yang sama dengan harga 112rb. Sarapan, lalu mencari bus 3/4 arah Dieng. Cari yang penuh agar langsung berangkat, dengan ongkos 15rb bus 3/4 perlahan meninggalkan Mendolo pukul 08.30 pagi.

Bus berjalan perlahan, karena macet di daerah kota maupun di jl raya Dieng nya. Pun beban yang hampir overload, terkadang seperti meraung-raung saat di tanjakan. Total 2 jam perjalanan Mendolo - Patakbanteng, dengan jarak tempuh 26Km dengan perbedaan elevasi Mendolo 800mdpl - Patakbanteng 2000mdpl. Patakbanteng dikelilingi perbukitan indah, yakni di utara gunung Prau, dan selatan ada Sikunir. Timur ada Sindoro & Sumbing, dan di barat yakni perbukitan Dieng lainnya. Mengurus Tiket masuk seharga 10rb, dan menyadari begitu ramainya Prau di weekend kali ini. Kita bergabung dengan 3 pelajar asal Cigombong, yakni Arka, Denda, dan Syahdan. 

Team

Peta gunung Prau
Peta gunung Prau

Kita bertujuh baru memulai trekking pukul 12 siang, cuaca berawan khas penghujan melindungi kita dari terik tengah hari. Melewati rumah-rumah warga dan mendaki +-500 anak tangga, lalu mendaki 45° lurus dan Pos 1 berada diujung tanjakan sana. Dan menyadari hari ini bertepatan dengan International Mountain Days dan weekend, juga mendaki dimusim penghujan. Kita harus siap mental, dengan antrian pendaki yang panjang dan kalau diguyur hujan sore nanti.

Pos 1 Sikut Dewo pukul 12.30 siang. Jalur kedepannya yakni tanjakan tak berujung, dan kita harus sabar tuk mendahulukan yang turun terlebih dahulu. Sempet ngebreak disalah satu warung, karena hujan yang turun cukup lama. Vegetasi masih terbuka dan belum masuk hutan, dengan view perkebunan warga dan datara  tinggi Dieng.

Antre yang rapi ya...

Pos 3 gunung Prau
😰

✌️✌️

Plawangan gunung Prau
✌️view

Hingga pukul 4 sore, kita sudah tiba di area camp 2570mdplan. Ku berinisiatif dengan Syahdan tuk membackup Ruby dan mas Imam, dan sisanya coba membangun tenda. Dan pukul 16.30 sore kita semua sudah kembali bersama, dan observasi mencari tempat camp. Kita ngecamp ditengah, karena diarea dekat hutan sudah penuh dengan tenda. Juga karena ku ingin, saat buka tenda langsung dapet view hehe. Pun faktor kabut tebal dan gerimis yang perlahan turun, membuat kita terburu-buru membangun tenda.

Pukul 5 sore kita sudah santai, dan mulai memasak. Makan malam berlangsung khidmat, karena kita tak sempat makan siang & sore. Malamnya tak ada taburan bintang, seperti kisah-kisahku sebelumnya. Bahkan ku masih bersyukur diberi kelancaran, karena faktor keadaan tak berpihak pada kita.

Mendaki di penghujan, weekend, dan bertepatan dengan Hari Gunung Internasional. Juga yang perlu kita sadari, Basecamp-area camp hanya berjarak <2KM sahaja. Yakni tempat camp kita berelevasi 2570mdpl, Patakbanteng sudah 200mdpl. Tp total perbedaan elevasi 570mdpl dengan waktu tempuh 4jam, cukup lama ya. Maklumi sahaja, resiko pendakian kelompok hehe. Daaan pukul 20 kita sudah sama-sama terlelap, karena memang tak ada lagi yang dikerjakan.



SENIN 12 DESEMBER 2016
Alarm berdering pukul 05.30 pagi, hamparan view gunung-gunung Jawa Tengah pun nampak jelas. Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, Ungaran dan Andong nampak jelas. Warna-warni tenda yang berdiri, dan punggungan yang nampak kokoh. Indah sekali. Pantas saja sering viral. Dengan terletak di kawasan wisata Dieng, jarak tempuh dekat, perbedaan elevasi yang sedikit, juga tiket masuk yang sangat murah. Namun kita sudah bisa menikmati view secantik ini. Ku bersyukur, bisa hidup di negeri yang kaya ini, dan menjaganya adalah tanggung jawab kita semua.

Camp Sunrise Gunung Prau
Morninglory

Camp Sunrise Gunung Prau
❤️



Kebalik wuy

Camp Sunrise Gunung Prau

Setelah puas berfoto, kita memasak sarapan pagi. Menikmati orang yang lalu lalang, memperhatikan pose-posenya, aksesorisnya, hingga tulisan-tulisan kertas yang dibawanya. Tak apalah, kita juga sering begitu. Yang penting tak melanggar norma, dan tetap mengutamakan faktor safety di tiap pendakiannya. 

Camp Sunrise Gunung Prau


Camp Sunrise Gunung Prau
View perpisahan

Mentari pagi, beri salam lagi~ dirasa cukup, yuk kita packing. Setelah semua masuk ke ransel, dan sampah sekitar tenda kita sudah bersih. Kita memulai perjalanan pulang pukul 10 pagi,dan masih harus mendaki kearah utara. Perjalanan turun membawa kita melintasi hamparan bukit telettubies yang landai, dan hamparan bunga Daisy ikon gunung Prau yang indah.

Daisy

Bukit telettubies gunung Prau
Salah satu bukit telettubuies

Bukit telettubies gunung Prau
Sabana

Puncak gunung Prau
Trianggulasi Prau

Akhirnya setelah berbukit-bukit, kami tiba di puncak gunung Prau /Prahu 2565mdpl pukul 10.40 pagi. Ada versi juga yang menyebutkan ketinggian puncak Prau yakni 2590, namun ku tak ambil pusing hehe. ' A peak of thousand hills', tak berlebihan julukan itu diberikan kepada gunung Prau ini. Yang memang ini adalah titik tertinggi, dari bukit-bukit Prau itu sendiri, bahkan tertinggi dari bukit-bukit disekitar Dieng sekalipun. Trianggulasi hanya tugu kecil 30cman saja kala itu, entahlah kalau yang versi sekarang ini hehe. Juga cukup banyak pendaki yang turun via Dieng, dan kita berbelok ke kiri mengikuti punggungan. 

Pos 3 Nganjir Dieng pukul 11 siang. Ada pertigaan, yakni bila lurus kita kearah puncak Pemancar, dan kiri kearah Dieng. Memutuskan langsung turun, karena waktu yang terbatas. Juga sesiang ini, kabut tebal sudah menghalangi pandangan. 

😛

Pos 2 pukul 11.30. Kita ngebreak cukup lama tuk menunggu yang lainnya. Juga ada beberapa pertigaan arah Dwarawati dan Kalilembu, yang bila kita tak memperhatikan bisa keluar didesa lain hehe.

Pos 1 Gemekan pukul 12.10 siang. Kabut mulai turun, dan kita masih Percaya diri ini hanya gerimis. Taunya berubah deras dengan cepat, kitapun kelimpungan. Berdalih sedikit lagi sampe, dan kepalang tanggung yasudah trabas ajalah XD

Pos 1 gunung Prau via Dieng
Pintu Rimba

Pun pukul 12.20 kita sudah tiba di pintu rimba jalur Dieng, dan vegetasi berubah menjadi ladang penduduk. Terus menyusuri jalur, dan kami baru tiba di basecamp Prau Dieng 2100mdpl pukul 12.40 siang. Basecampnya pun lengkap, dari gapura, batu peletakan, MCK, dan pos registrasi yang rapi. Namun Patakbanteng tetap menjadi favorit, karena akses paling dekat ke area 'Camp Sunrise'.


Kita pun berteduh, dan terjebak hujan. Cukup lama, bahkan keburu untuk bongkar kompor nesting tuk masak dan ngopi. Pukul 2 siang, kami bertempat pamit pisah ke 3 pelajar Cigombong tadi. See you kalian, semoga kita kembali dipertemukan suatu hari nanti. +-10menitan dari basecamp ke jalan raya, kitapun menyempatkan tuk berfoto di plang DIENG yang sangat ikonik. Dan kita bergegas naik ke bus 3/4, yang membawa kami ke terminal Mendolo. 

Gapura basecamp Dieng

Ikonik place


Semoga kita bisa kembali, berwisata disini. Ke Candi Arjuna, kawah Sikidang, Batu Ratapan Angin, Telaga Warna, bukit Sikunir, dan harapan menghadiri Dieng Culture Festival di kemudian tahun nanti.

Meski kita was-was tertinggal bus Sinar Jaya selama diperjalanan, kita pun tiba dan kembali mepet. Tiba di Mendolo pukul 16, bus arah Bogor pun sudah standby. Tak sempat mandi bahkan berganti baju, kita langsung naik ke bus. Hujan yang terus mengguyur membuat suasana cukup becek didalam bus, ditambah outfit kami yang lembab sekali. Bus pun hampir terisi penuh, dan tak ada celah tuk bangku kosong. Meninggalkan Mendolo Wonosobo pukul 17, dadah 🖐️Meski kondisi kita penuh keterbatasan, namun lelahnya mendaki membuat kita tetap tibra selama diperjalanan.

Hingga kami bertempat finish di Bogor pukul 6 pagi tuk keesokan harinya, alhamdulillah. Terimakasih telah mewarnai cerita pendakian kita ini, mas Imam dan Ruby.

Salam Lestari!

CATATAN WAKTU
11/12
07.00 Terminal Mendolo Wonosobo. Bus Sinar Jaya dari Baranangsiang, Eksekutif 130rb
08.30 Mendolo - Patakbanteng. Bus 3/4 15rb
10.00 Patakbanteng 2000mdpl. Tiket masuk 10rb
12.00 Mulai trekking
12.30 Pos 1 Sikut Dewo
13.40 Pos 2 Canggal Walangan
15.00 Pos 3 Cacingan 2370
16.00 Camp Area 2570

12/12
05.30 Bangun
10.00 Turun via Dieng
10.40 Puncak gunung Prau/Prahu 2565/2590
11.00 Pos 3 Nganjir
11.30 Pos 2
12.10 Pos 1 Gemekan
12.20 Pintu Rimba
12.40 Basecamp Dieng 2100
14.00 Dieng - Mendolo. Bus 3/4 15rb
16.00 Terminal Mendolo
17.00 Mendolo - Baranangsiang Bogor. Bus Sinar Jaya 112rb

SELESAI~

Rabu, 29 April 2020

PENDAKIAN GUNUNG SINDORO 3153 MDPL VIA KLEDUNG

EKSPEDISI 3H 2S 1M

3Hari 2Sumbing&Sindoro 1Merdeka

17-19 AGUSTUS 2016


PART II

Cerita ini lanjutan dari kisah sebelumnya :https://novialanis.blogspot.com/2020/04/pendakian-gunung-sumbing-via-garung.html?m=1

Gunung Sindoro
Sindoro, difoto dari Sumbing, dokumentasi pribadi

Gunung Sindoro merupakan nama lain dari Sindara atau Sundoro, memiliki ketinggian 3153 mdpl, terletak di antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Temanggung – Jawa Tengah. Letaknya bersebelahan dengan saudara kembarnya yaitu Gunung Sumbing.


Perbatasan Wonosobo dan Temanggung
Tugu perbatasan Wonosobo - Temanggung

KAMIS 18 AGUSTUS 2016
Pukul 11 siang, selepas dari Sumbing. Kami sedang berjalan dari basecamp Garung ke basecamp Kledung, yang ternyata sudah berbeda Kabupaten. Karena Kledung berlokasi di kecamatan Kledung, kabupaten Temanggung. Jarak antara kedua basecamp yakni hanya 2KM, dengan waktu tempuh +-30menit. Juga basecamp Kledung tepat berada disisi jalan raya, dan sudah berketinggian 1400mdpl.

Setibanya di basecamp, kami disambut ramah. Bertanya-tanya perihal simaksi, dengan biaya 10rb/orang dan 5rb untuk fotocopyan peta per kelompok. Kerennya Sumbing dan Sindoro, pengelola basecampnya sudah menyediakan peta. Sangat efektif tuk menekan angka insiden keluar jalur atau tersesat, dan semoga bisa dicontoh oleh basecamp gunung-gunung lainnya. Lalu kita bergegas mandi, dan makan siang.

Dirasa siap, kami melanjutkan pendakian gunung Sindoro pukul 13.30 siang. Kami menggunakan jasa ojek seharga 15rb menuju Pos 1, dan makadamnya masih manusiawi dengan metode ojek normal. Pos 1 berjarak 2,5KM dari basecamp, syukurlah bisa memotong jarak lumayan. Meski sempat ditawari hingga pertengahan Pos 1 - Pos 2 seharga 25rb, namun kita menolaknya dengan halus.

Pos 1 1660mdpl pukul 13.45, pendakian yang sebenarnya pun dimulai. Tak muluk - muluk soal target hari ini, menyesuaikan sisa tenaga saja yang penting ngecamp sebelum gelap. Jalur awal tanah yang menanjak normal, ramah tuk dipijak. Sesekali melipir kanan, meski berkelak-kelok namun penanda jalur masih cukup jelas.


Pos 2 1980mdpl pukul 14.45. Jalur selanjutnya mulai menanjak, tuk menambah ketinggian signifikan. Menjelang pos 3, jalur berubah berbatu dan mulai memasuki punggungan. Kami berdua mulai keteteran fisiknya, lelah semakin terasa. Vegetasi mulai merenggang, kedepannya mulai terbuka.

Pos 2 gunung Sindoro via Kledung
Pos two

Pos 3 2340 pukul 15.45 sore, atau tepat 2jam pendakian. Kita sudah menggapai batas minimal trekking sore ini, ibaratkan safepoint. Beristirahat total, menikmati sepinya Pos 3 sore ini.

Tempatnya sangat luas, dan sore ini hanya berdiri <10Tenda. Ada bangunan semi permanen, yang ditinggali pa Kuat, warga yang berjualan gorengan, rokok, air mineral, dan menjaga tenda saat sedang summit. Kita melanjutkan pendakian, mendaki 1 undakan bukit lagi dengan sisa-sisa tenaga.

Koboi insaf

Pos 3 Gunung Sindoro via Kledung
Pos tilu

Pos 3 terlihat dari Camp Sunrise

Pukul 16 sore, kami tiba di Camp Sunrise 2410mdpl, ketinggiannya tak jauh dari Pestan nya Sumbing ternyata. Lega, lega sekali rasanya. Hari yang lelah, sungguh melelahkan. Kami membuka tenda dengan terburu-buru, karena kabut yang menebal. Gerimis mulai turun, bagai alarm tuk kami mempercepat bongkar tenda. Hujan sedang langsung mengguyur, saat tenda sudah berdiri seutuhnya. Titik krusial berhasil kita lewati. Karena telat beberapa menit saja akan kerepotan, terlebih kita buka tenda ditempat yang benar-benar terbuka.

Angin bertiup kencang, hujan menerjang. Kami mengisi perut, makan sore sekalian makan malam. Tak ada kegiatan berarti, selain istirahat bagi kami. Menjelang maghrib, kita sudah sama-sama meringkuk didalam kantung tidur.

Pukul 21 ku sempat terbangun, dan keluar tenda. Membaur dengan pendaki yang ngecamp disini, yang +-hanya 5tenda saja. Menyalakan api unggun, dengan sisa-sisa ranting kering yang didapati mereka sedari siang. Cuaca sudah berganti, cerah malam ini. Padang bulan, berjuta bintang. Titik-titik kecil sinar di badan gunung Sumbing, dengan kabut tipis menutupi Jl.raya Ajibarang Secang. Ku tak berlama-lama diluar, karena angin masih bertiup kencang, dan jadwal padat dikeesokan harinya. Selamat tidur, Sindoro.


JUMAT 19 AGUSTUS 2016
Sering kebangun karena angin yang menggoyangkan tendadan memastikan patok terpasang kencang. Alarm berdering pukul 1 pagi, tubuh lelah namun mental tetap semangat. Setelah packing seadanya, kita sudah mendaki puncak Sindoro pukul 02.15 pagi. Keluar tenda dengan rasa dingin yang langsung menusuk, angin pun masih berhembus kencang. Cuaca benar-benar cerah, berjuta bintang dengan gunung - gunung berbaris dibelakang kita.

Kita summit bareng 2 pendaki asal Surabaya, dan sedari awal sudah menanjak cukup tajam. Melewati hutan-hutan lamtoro, yang kering hampir tak berdaun. Gap elevasi yang cukup jauh antara Puncak - Camp Sunrise, membuat kita summit agak lama.

Pos 4 Watu Tatah 2860mdpl pukul 03.50 pagi, hampir 2 jam baru tiba di Pos 4 ini. Gundukan batu yang ditata sedemikian rupa, cukup besar dan kokoh. Istirahat sejenak, tak perlu terburu-buru karena kami rombongan pertama yang summit pagi ini. Lanjut jalan, dan lamtoro menjadi pelindung kita dari angin. Sesekali tercium bau belerang yang menyengat, tanda sebentar lagi tiba.

Melihat diujung atas bukit yang terbuka, saat tiba disana ternyata masih ada bukit lagi, njir. Summitnya jauh banget, mana sering PHP lagi. Hingga kami berempat akhirnya tiba di puncak Sindoro 3153mdpl pukul 05.15 pagi, total 3 jam pendakian dengan perbedaan elevasi 750an vertikal. Asap terus mengepul, nampak kawah yang sangat aktif.

Ku dan Iki pamit, tak menikmati sunrise seperti mereka. Kita punya agenda, tuk mengelilingi puncak Sindoro. Dimulai kearah kiri, searah jarum jam. Melihat samudera awan di barat, dengan Dieng Plateau, Prau, dan Slamet yang nampak anggun. Tiba di Segoro Wedi, tanah datar berpasir yang ada di tengah puncak Sindoro. Hingga kita terlihat bersebrangan, dengan puncak Sindoro Kledung disana. Namun sayangnya kita tak bisa memutari 360°, karena arah belerang yang mulai menutupi pandangan. Kita kembali ke Puncak Sindoro Kledung, tuk menikmati hangatnya mentari pagi.

Segoro Wedi gunung Sindoro
Lapangan bola di Segoro Wedi

Dieng Plateau

Keliling puncak Sindoro
Sebrang

Sunrise Puncak gunung Sindoro
Goldy

Golden Sunrise kembali kita dapatkan, dengan garis orens dengan awan-awan yang menjuntai indah. Jajaran gunung nampak sangat jelas, dari Sumbing, Merbabu, Merapi, Andong, Telomoyo, dan Ungaran.

Target bisa tercapai, 2 puncak gunung 3000+ dalam 2 hari. Alhamdulillah. Berjemur dan ambil beberapa foto, dengan mereka yang ramah-ramah. Pendaki weeday, memang selalu begitu. Tak ramai, namun ramah. Dari kalangan pengangguran, mahasiswa, para senior, hingga mereka-mereka yang sejati, membaur menjadi satu.

Pendaki Kertas
Loph u

Puncak gunung Sindoro

Puncak gunung Sindoro
Doet maot

Puncak gunung Sindoro
Weekday hikers in one frame

Kami berdua memutuskan turun duluan, pukul 7 pagi. Sekarang waktunya kita benar-benar menikmati perjalanan turun, dengan sabana-sabana Sindoro di kanan kiri yang sangat luas.
07.30 kami tiba di Pos 4 Watu Tatah, foto-foto disini bagus juga ternyata. Camp Sunrise nampak jauh dibawah sana, dan bahkan desa Garung - Butuh jua nampak jelas.

Pos 4 Watu Tatah gunung Sindoro via Kledung
Ku pasrahkan diriku digenggamanmu

Pos 4 Watu Tatah gunung Sindoro via Kledung

Camp Sunrise setelah di zoom

Akhirnya, kami tiba di camp Sunrise pukul 08.20 pagi. Seperti biasa, bagi tugas antara yang packing dan yang memasak. Setelah rapi dan sudah opsih, kami meninggalkan camp pukul 10 siang. Rela tuk melewatkan cuaca yang sedang cerah-cerahnya, demi jaminan bus pulang hahaha.


Melintasi Pos 3 dan langsung turun, di jalur bebatuan yang membuat otot paha cukup terasa. Dan saat memasuki trek tanah, kita menaikkan ritme tuk lebih cepat. Menjadi tim yang pertama turun siang ini, satset terus lah pokoknya hihi.
Pos 2 pukul 10.45, terus lanjut. Pun alasan kita terburu-buru, karena mengejar ketersediaan ojek. Karena hari ini hari Jumat, yang ditakutkan yakni ojek warga keburu solat Jumat semua.

Hingga pukul 11 siang, dipertengahan Pos 2 dan Pos 1 kita sudah bertemu ojek. Ojeknya jemput bola cuy hahaha, dan kita langsung naik menuju basecamp dengan ongkos 20rb. Memasuki fase akhir pendakian, menatap Sumbing dan Sindoro untuk yang terakhir kalinya.

Finish di basecamp Kledung, pukul 11.40 siang. Kita mandi secara bergantian, lalu cari makan siang. Meluruskan kaki, yang pegal-pegalnya mulai terasa. Kita memesan kolbun kearah Mendolo, Wonosobo. Dengan 20rb/orang x 5 penumpang, 3 lagi pendaki asal Jakarta. Mobil pun berangkat, pukul 13.20 siang.

Dimasa lalu, ku sesali selalu. Akrab dengan mereka, namun sering lupa meminta kontaknya

Di Terminal Mendolo, kita bergegas mencari bus angkutan menuju Bogor. Kita berpisah disini oleh pendaki Jakarta, dipisahkan oleh keberangkatan bus masing-masing. Dapet Sinar Jaya seharga 115rb arah Bogor, dan bus perlahan meninggalkan Wonosobo pukul 16.45.



CATATAN WAKTU
18/8/16
11.00 Basecamp Garung, Sumbing, Wonosobo
11.30 Basecamp Kledung, Sindoro, Temanggung 1400mdpl
13.30 Start BC Ojek 15rb
13.45 Pos 1 1660
14.45 Pos 2 1980
15.45 Pos 3 2340
16.00 Camp Sunrise 2410

19/8/16
01.00 Bangun
02.15 Summit attack
03.50 Pos 4 Watu Tatah 2860
05.15 Puncak Sindoro 3153
07.00 Turun
07.30 Pos 4
08.20 Camp Sunrise
10.00 Turun
10.45 Pos 2
11.00 Pertengahan Pos 2 - Pos 1, Ojek hingga BC Kledung 20rb
11.40 BC Kledung
13.20 Meninggalkan BC Kledung
16.45 Mendolo Wonosobo - Bogor Baranangsiang Sinarjaya 115rb

SAYONARA

SELESAI~





Selasa, 28 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG SUMBING VIA GARUNG (JALUR LAMA) 

EKSPEDISI 3H 2S 1M

3Hari 2Sumbing&Sindoro 1Merdeka

17-19 AGUSTUS 2016

PART I

EKSPEDISI SEVEN SUMMIT PULAU JAWA : BAGIAN II

Gunung Sumbing

Gunung Sumbing terletak di Jawa Tengah, Indonesia. (Ketinggian puncak 3.371 mdpl), gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung ini secara administratif terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo. Bersama dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing membentuk bentang alam gunung kembar, seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, apabila dilihat dari arah Temanggung.

Seperti biasanya, pendakian ku selalu terlibat drama yang tidak ku minta. 10 Agustus, tepat 1 tahun ku bekerja di ElangPerdana. Tepat juga keluarnya jatah cuti, yakni baru dapet 3 hari saja (hitungannya dari Agustus - Desember 2015). Berencana ku pakai 1 cuti, di tanggal 17 nanti. Timingnya sangat ngepas, baru dapet cuti dan seminggu kemudian langsung dieksekusi XD

Ku mendaki masih bersama Iki (Rizqi Fadillah), partner duet pendakian Salak 1 Juli lalu. Chemistry memang sudah terbentuk dan ditempa, sekarang waktunya kita melangkah lebih jauh lagi haha.


RABU 17 AGUSTUS 2016
Sore kemarin, kita berdua berangkat dari Baranang Siang pukul 17. Menggunakan bus Sinar Jaya Eksekutif, relasi Bogor - Wonosobo seharga 125rb. Bus hanya terisi 1/2nya saja, membuat istirahat kita leluasa. Kita duduk di belakang, di bangku 3 yang diisi 1 orang. Menjelang malam, kita rebahan. Memanjakan punggung, sebelum ditempa mendaki 2 gunung 3000+ dalam 3hari.

Dirgahayu ke 71 Negeriku, aku percaya kau akan tetap indah. Dan tepat dihari ulangtahunmu, kita berencana berekspedisi. Pukul 4 pagi, kami tiba di terminal Mendolo, Wonosobo. Setengah sadar, kita bergegas menurunkan ransel. Langsung menuju bus 3/4 arah Temanggung/Magelang, dan duduk bersama mbah-mbah wanita perkasa yang sepagi ini sudah berangkat tuk meladang. Angin subuh membekukan tubuh, bus melaju kencang dengan ongkos 15rb. Menjelang pukul 5 pagi, kami tiba di Garung, Kalikajar, Kabupaten Wonosobo.

Rasanya ku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Iya sinar-sinar headlamp terlihat mengular mengantri, mendaki puncak gunung Sumbing & Sindoro. Subuh ini cerah, dan barisan pendaki yang 'summit attack' nampak sangat jelas. Ku berjalan kearah basecamp, dan tiba 10 menit kemudian. Parkiran sangat penuh, dan saat ku tanya ranger yang berjaga, total 600 pendaki di Sumbing via Garung pagi ini. Kita bergegas subuhan, sembari menggigil terkena dinginnya air di subuh ini.

Basecamp Garung, desa Butuh, kecamatan Kalikajar, Wonosobo sudah berketinggian 1450mdpl. Puncak Gunung Sumbing berketinggian 3371, yakni selisih 1921 meter yang harus kita daki tuk mencapai puncaknya. Sarapan kita hanya nasi goreng sederhana seharga 10rb, namun view Sindoro nya yang mahal. Mengurus perizinan seharga 10rb, dan 5rb untuk fotocopyan peta, keterangan pos, dan trashbag nya. Yuk start, cuaca subuh yang cerah mendadak berubah kabut pagi ini.

Nasgor dengan view mahal

Memutuskan naik ojek fenomenal, seharga 25rb. Iya fenomenal, karena cara naiknya tidak biasa. Yakni penumpang didepan, dibelakang yakni yang bawa motor dan membawa ransel kita. Lewat jalan aspal sih masih santuy, nah saat lewat makadam sangat PR. Getarannya seakan membuat biji ingin pecah, dan embun di bebatuan membuat slip ban. Kanan kiri yakni ladang penduduk, didominasi sayur dan tembakau. Oh ya naik ojek itu kita bisa berhemat jarak 3KMan, juga menghemat waktu 2-3jam. Tiba di Pos 1 seakan klimaks, dan lega tentunya.

Pos 1 Malim KM3 pukul 06.50 pagi, ngebreak sesaat dan start tepat pukul 7. Jalur langsung menanjak dengan kanan kiri masih cemara, dan kabut sudah turun sepagi ini. Ransel terasa sangat berat, karena ku salah membawa air 5 1/2liter dicarrier. Diakhir melalui tanjakan yang bernama 'Pencit Engkrak', barulah kita tiba di Pos 2.

Pos 2 Genus KM4 pukul 07.45 pagi. Lurusin kaki sejenak, yuk lanjut. Kita memasuki fase terberat pendakian Sumbing, yakni Engkol-engkolan. Mendaki bukit yang membuat cukup putus asa, bukit gundul yang tanpa pegangan. Kita bersyukur mendaki Engkol-engkolan dengan keadaan berkabut. Karena bila kemarau panjang akan berdebu, dan kalau penghujan akan licin tak karuan.

Pos 2 Genus gunung Sumbing via Garung
Kilometer 4 : Pos II Genus

Engkol - engkolan gunung Sumbing
Engkol terus jon

Pos 3 Seduplak Roto KM5 pukul 08.40 pagi. Disini, vegetasi mulai terbuka. Kabut tebal, tanah lembab, dan ilalang menjadi jalur yang kita lalui. Sesekali mulai terlihat pendaki yang baru turun sepagi ini, dan sedikit kecewa karena cuaca yang berkabut katanya.

Pos 3 Seduplak Roto gunung Sumbing via Garung
Loveyou

Pos 4 Pestan (Pasar Setan) 2437mdpl pukul 09.20 pagi, wah masa iya kita sampai tempat camp sepagi ini? Tanah miring, terbuka, sangat rentan bila terkena badai. Ngebreak dulu lah, sambil mempertimbangkan. Sumbing 3371 dengan Pestan 2437, masih selisih 900 meter vertikal lagi cuy, jauh. Yuk lanjut, meski kami gambling soal menemukan tempat camp.

Pos 4 Pestan
Pasar setan (Pestan)

Sumbing via Garung ini jalurnya full punggungan, jadi nampak kanan kiri juga punggungan-punggungan lainnya. Lebih banyak menunggu pendaki yang turun, baru kita bisa naik. Kita mendaki dengan kombinasi tanah dan bebatuan yang terjal, menuju Pasar Watu.

Pukul 10.40 kita tiba di Pos 5 Pasar Watu. Banyak tanya perihal area camp di Watu Kotak ke pendaki yang baru turun, dan penuh katanya. Ramai, dan areanya tak luas, jua jaraknya masih lumayan jauh. Kita berinisiatif tuk trekking sambil cari-cari lahan camp, yang akhirnya berhasil kita dapatkan. Tak sengaja, karena ku menemukan jejak yang menanjak (bukan jalur). Ku naiki, eh dapet lahan yang ngepas untuk tenda ukuran 2P. Areanya berada tepat dibawah lereng batu yang sangat besar, juga terhalang oleh angin. Kitapun menghentikan pendakian, dan bergegas ngecamp pukul 11.10 siang.

Tenda sudah berdiri, dan waktu luang yang teramat banyak. Barang sudah rapi, tinggal nyantainya saja hihi. Kita menikmati view di undakan, lalu lalang pendaki yang turun. Masak makan siang, lalu kadang rebahan. Kadang nampak Sindoro yang malu-malu, juga view sabana-sabana dengan punggung-punggung mengular indah. Hingga sore datang menjemput, dan pukul 19 kita sudah terlelap lagi.

Milkywayku

View dari undakan


KAMIS 18 AGUSTUS 2016
01.30 pagi kita berdua sudah bangun. Bergegas masak sarapan, dan lipat sleepingbag dan packing seadanya. Setelah siap, kita memulai perjalanan summit attack pukul 3 pagi. Ciri khas kemarau tuh ya seperti ini, bila cerah, langit berjuta bintang nampak dekat dan sangat indah. Nampak Sindoro dibelakang kita, juga gemerlap lampu Wonosobo dan Temanggung. Baru berjalan beberapa menit, kita sudah tiba di Pos 6 Watu Kotak.

Watu Kotak 2736mdpl pukul 03.10 pagi, yang sepi dan tak ada yang ngecamp. Diberi nama Watu Kotak karena memang ada Batu yang super besar, berukuran +- 5m tinggi, dan 10m memanjang. Dan baru kusadari, ternyata kita ngecamp di celah ujung Watu Kotak hahaha. Tak ada bonus, kita benar-benar mendaki. Tanjakan terjal terus keatas, hingga cepat menambah elevasi.

Pos 7 Tanah Putih pukul 4 pagi, mungkin berwarna putih karena sisa-sisa letusan Sumbing dimasa lalu.

Tak terasa, kita sudah tiba di puncak Buntu gunung Sumbing pukul 04.15 pagi. Kisah mendaki Slamet yang kepagian, pun kembali terulang. Jelas, hanya ada kita berdua hahaha. Sepagi ini, setinggi ini. Di puncak gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa, dan tertinggi kedua di Jawa Tengah dibawah Mbah Slamet. Kita berdian sejenak, malah menurunkan suhu tubuh rasanya. Ambil beberapa foto, tapi masih gelap juga. Yuk bergerak, kita memilih melipir kearah puncakan yang lebih tinggi. Dengan dikiri jurang kearah kawah, kita merambat perlahan dan penuh kehati-hatian.

Pagi amat jang

Hingga kita tiba di Puncak Kawah gunung Sumbing, dan ada makam / petilasan juga disini. Garis oranye mulai nampak dari timur sana, diikuti terlihatnya Ungaran, Andong, Telomoyo, Merapi, Merbabu, bahkan Lawu. Kearah puncak Rajawali yang tertinggi, terlalu ekstrim bila dari sini. Kita harus turun sedikit dan menjahit punggungan lagi, terlalu PR bagi kami. Tadinya juga memasukkan opsi turun ke Kawah, namun dibatalkan mengingat siang ini juga kita harus mendaki Sindoro. Yuk kembali saja ke puncak Buntu, kita berduduk manja diatas batu yang mirip kepala singa ini.
Pukul 6 pagi, kita sudah kembali. Puas berfoto, karena hanya ada kita berdua sahaja. Menatap kepada Sindoro, dan Jalan Raya dibawah sana. 

Puncak Kawah gunung Sumbing
Garis orens di cakrawala

Kawah gunung Sumbing
Kawah Sumbing

Segoro Banjaran gunung Sumbing
Segoro Banjaran

Jalur puncak kawah - puncak buntu, lumayan

Golden sunrise di puncak gunung Sumbing
Golden sunrise

Rasanya ku tak menyangka. Kemarin subuh kita di jalan raya sana, dan siang sudah tiba di batu besar itu. Saat ini kita sudah berada di puncak, dan sore nanti harus sudah berada di badan gunung Sindoro. Keesokan pagi sudah di puncak gunung di sebrang sana, di 3153mdpl. Hingga lusa siangnya harus sudah tiba di Bogor, dan lanjut bekerja seperti biasa. Ah sulit bila membayangkan, dan kita harus bertanggung jawab atas pilihan yang kita buat.

Puncak Buntu gunung Sumbing
Puncak Rajawali yang tertinggi, dan puncak Kawah disebelahnya. Foto diambil dari Puncak Buntu
🤘

Pendaki Kertas
Halo Putsop

Puncak Buntu
Itu, tujuan kita selanjutnya

Pukul 06.40 kita sudah turun ke tempat camp, padahal belum ada yang summit lagi selain kita XD Jalur turun yang berbatu, membuat dengkul lemas ternyata huhu. Bertemu pendaki yang baru summit, dengan mimik wajah terheran-heran karena kita yang sudah turun lagi. Menuju tempat camp, jalur terlihat jelas. Hingga tiba di Watu Kotak pukul 07.15. Dan tiba di celah batu 10menit kemudian, hanya 45menit perjalanan turun ternyata.


Pos 5 watu kotak gunung Sumbing via Garung
Watu Kotak

Gerak cepat dan bagi tugas, Iki packing dan ku masak, begitupun sebaliknya nanti. Setelah semuanya selesai, dan jangan lupa Opsih. Pukul 08.50 pun kami sudah memulai perjalanan turun, 5menit kemudian sudah tiba di Pasar Watu.

Menuruni punggung, dengan kanan kiri view punggungan lainnya. Pestan nampak cukup jauh dibawah sana, dan jalur bebatuan ini terasa begitu menyebalkan. Hingga kita tiba di Pestan, pukul 09.20 pagi.

Pasar Watu gunung Sumbing via Garung
Kuburan band

Pasar Watu gunung Sumbing via Garung
Lemes wa haji

Pos 3 Seduplak Roto pukul 09.40 pagi. Ohya tak banyak tenda baik di Pestan maupun disini, karena momen-momen 17an sudah lewat sepertinya. Engkol-engkolan cukup baik kami lalui, karena tak ada adegan tunggu menunggu maupun antre. Sisanya menurun wajar, dan kitapun menaikkan ritme.

Pos 2 Genus pukul 10.10, terasa begitu cepat karena jarang beristirahat. Suara deru motor, menandakan sebentar lagi kami tiba di Pos 1. Dan tepat pukul 10.30 pagi kita sudah tiba di Pos 1 Malim, langsung memesan ojek menuju Basecamp Garung. Metodenya agak beda, yakni ransel dan abangnya didepan, dan penumpangnya dibelakang. 

Namun ku tetap salut untuk pendaki yang tak menggunakan ojek dari BC - Pos 1, fisiknya pasti prima, banyak waktu luang dan benar-benar mendaki.

Ojek pos 1 gunung Sumbing via garung
🤘 deui wae

Kami berdua finish di basecamp Garung pukul 10.50, terhitung hanya 2 jam turun dari area Pasar Watu - Basecamp. Lapor ke pendataan, dan beli beberapa oleh-oleh. Bertanya soal tarif ojek dan jarak jalan kaki menuju BC Kledung Sindoro, kamipun memutuskan jalan kaki sahaja. Pukul 11 siang, kitapun meneruskan langkah tuk mendaki gunung Sindoro via Kledung.

BERSAMBUNG ~


CATATAN WAKTU:
17/8/16
04.00 Terminal Mendolo, Sinar Jaya Eksekutif dari Baranagsiang, 125rb
05.00 Garung, bus 3/4 15rb
05.15 Basecamp Garung 1450, Butuh, Kalikajar
06.40 Start ojek dari Basecamp, 25rb
06.50 Pos 1 Malim KM 3
07.45 Pos 2 Genus KM 4
08.40 Pos 3 Seduplak Roto KM 5
09.20 Pos 4 Pestan (Pasar Setan) 2437
10.40 Pos 5 Pasar Watu
11.10 Camp

18/8/16
03.00 Summit attack
03.10 Pos 6 Watu Kotak
04.00 Pos 7 Tanah Putih
04.15 Puncak Buntu
05.00 Puncak Kawah
06.00 Kembali ke Puncak Buntu
06.40 Turun
07.15 Pos 6 Watu Kotak
07.30 Tempat camp
08.50 Turun
08.55 Pos 5 Pasar Watu
09.20 Pos 4 Pestan
09.40 Pos 3 Seduplak Roto
10.10 Pos 2 Genus
10.30 Pos 1 Malil
10.40 Basecamp Garung
11.00 Start Basecamp Kledung Gunung Sindoro