Selasa, 24 Maret 2020

PENDAKIAN GUNUNG SALAK 1 VIA CIMELATI
MENGGAPAI PUNCAK I GUNUNG SALAK
Puncak Manik 2211 mdpl

18-19 APRIL 2015

Via Cimelati


First time menuju gunung Salak, khususnya Puncak 1 atau biasa disebut puncak Manik yang berketinggian 2211mdpl, pada pertengahan April 2015. Berawal dari ajakan disebuah group Facebook Pendaki Bogor, untuk merayakan ultah salah seorang bernama Erik Fernando, kami yang kala itu memang berniat kesana, langsung contact doi ingin berpartisipasi. Peralatan dan kondisi dirasa cukup, semangat menuju gunung yang tiap hari kami lihat.

Gunung Salak
Gunung Salak dengan beberapa puncaknya, difoto dari Setu Tamansari. 


Sabtu, 18 April 2015
Hari H pun datang begitu cepat, berangkat sedari pagi menuju Jalan Riau, menuju Basecamp kami, SARGIATA. Sekitar pukul 08.30 pagi kami meninggalkan BaranangSiang, menumpang bus Putra Bahari. Menuju Lido, dengan ongkos 10rb. Tim yang berangkat adalah Deden, Hasan, Solih dan Toke, Rascal team lagi hehe. Terkecuali paketu Dery yang masih sibuk, Deni entah kemana, Chandra Puput yang sibuk mengurusi Acara SAVE OUR CIKURAY Mei nanti. Dan keempat dari kami membawa keril semua. Isi bus lumayan kosong pagi itu, kamipun leluasa becanda dengan bebasnya.

Kamipun tiba di meeting point, Lido pukul 09.30, diawal bertemu dengan kang Harun asal Citeureup. Karena motor yang terbatas, Hasan Solih berangkat duluan dengan kang Harun dan kang Erik (yang punya acara) yang baru saja datang. Bertemu dengan rombongan lain, bernama Aziz, pribumi sini yang belum pernak ke Salak. Tak begitu lama, kang Harun dan kang Erik kembali menjemput kami bertiga, menuju kaki gunung Salak.

Tim sudah berkumpul disini, dan setelah siap, kami berombongan (belasan orang kala itu) start trekking pukul 11.30. Awal pendakian melewati rumah-rumah penduduk, berganti jalan aspal menanjak. Dengan kanan kiri perkebunan cabe, tomat, dan kol yang menyejukkan. Tetapi saat melihat kedepan, ujung aspal masih jauh brad, hawa sejuk itupun hilang seketika hahaha. Mana kami berada dibelakang mulu, awal saja fisik sudah keteter huhuhu.


Pintu rimba Cimelati gunung Salak

Jalur yang kami lalui bernama Cimelati, katanya sih jalur ilegal, namun tercepat dan banyak peminatnya. Setau saya jalur resmi TNGHS hanya Cidahu di selatan dan Paris reungit, tujuannya sama, ke puncak I Salak. Ada pula jalur Curug Nangka dan Aji Saka dari Ciapus, yang sampai ke puncak II. 

Back to the story, kami tiba di pintu rimba tepat tengah hari, dengan total rombongan 14 orang, dan hanya 2 orang yang bawa daypack. Trek awal menanjak dibawah tanah yang licin, cuaca cerah kala itu. Rapat dan melewati pipa-pipa penduduk, diawal memang ada percabangan beberapa. Peluh keringat membasahi kaos kami, kapan sampai di pos 1 ini?

Entahlah, kami tersadar saat tiba di pos 2, dengan tanah lapang yang lumayan luas, pukul 13.30. Tiba-tiba Hasan datang dengan setengah berteriak, "Waa Pacet waa..". Doi agak panik sih, tapi setelah ditaburi garam, pacet lepas dengan sendirinya. Maklum meski fisiknya kuat, doi baru pertama kali kena pacet hehe. 5menit istirahat, lanjut trekking lagi deh.
Pacet gunung Salak

Semakin menanjak tanpa bonus, trek tanah dan akar menjadi pijakan. Pukul 2 siang sudah di pos 3, dengan sedikit tanah lapang berundak, untuk camp darurat. Istirahat total disini, solat zuhur, isi air, dan atau hanya sekedar lurusin kaki. Kami berempat pun memasak mie, dan sebagian juga ada yang masak untuk makan siang. Makan bersama kala itu, agar lebih erat dan mengakrabkan diri hehe. Urusan perut sudah terisi, packing sudah, yuk lanjut perjalanan pukul 15.00. Sejauh ini tak melihat rombongan naik maupun turun, selain rombongan kami.
Pos 3 Cimelati gunung salak

Beberapa langkah keatas, tak diduga carrier Aziz ,webbing atasnya putus, diduga beban yang terlalu berat. Bersyukurnya bisa diakali oleh ripet/kabelties, yang dibawa oleh kang Harun. Disini kami belajar, peralatan survival sangat penting disetiap pendakian. Bahkan barang sekecil itupun, bisa menjadi nyawa saat kita berada di alam. Dirasa masalah selesai, lanjut menanjak lagi. Menuju pos 4, agak panjang, dan masih akar yang berliku.

Kamipun tiba di pos 4 pukul 16.30, tak terasa 1,5 jam kami berjalan. Istirahat 5 menit lanjut lagi, dan rombongan mulai terpecah disini. Trek masih sama monoton, dengan tanjakan akar 'to the point' keatas terus. Tak begitu banyak tanah datar selepas pos 3, bahkan penunjuk pos hanya selebaran ketas yang dilaminating, lalu diikat disebatang pohon kala itu. Katanya sih kedepannya jarak antar pos lebih dekat, katanyaaa..
Jalur Cimelati didominasi akar dan kemiringam cukup terjal
Pos 5 dapat dicapai dengan 1 jam perjalanan atau pukul 17.30, kabut sore mulai tebal menyertai perjalanan kami, dan komposisi tim mulai terpencar. Menuju pos 6 cukup dekat, hanya 30 menit saja. Headlamp dinyalakan, Hasan Solih terlihat cukup drop di pendakian kali ini. Menuju puncak, trek semakin berat. Tanjakan tiada henti, waktu maghrib tiba, kubangan lumpur tak terlihat, dan gerimis yang menemani.

Setelah menerobos beberapa ilalang, akhirnya kami tiba di puncak tertinggi Salak I 2211mdpl. Tepat saat isya tiba, hampir pukul 7 malam. Sekitar 7,5 jam kami berjalan, cukup lama juga ya ternyata, huh. Malam ini cerah, kamipun mengucap syukur tanpa henti bisa berpijak di titik ini. Lurusin kaki dulu, sambil berpikir dan mencari lahan untuk buka tenda. Angin semriwing, seolah mempercepat keringnya keringat yang membasahi tubuh kami. Lumayan penuh kawasan puncak Salak I kali ini, maklum weekend kali yak.

Terdapat dua area untuk buka tenda, area terbuka ini dan disampingnya yang agak ditutupi pepohonan. Kami yang baru pertama kali kesini, mengikuti rombongan saja ikut buka tenda disini, tanpa survey atau kelilig terlebih dahulu. Agak terpisah dengan rombongan, bahkan sedikit menghalangi jalan. Tenda kami berhadapan dengan tenda Aziz dan kang Harun, tenda kap 8 diisi 2 orang . Baru sadar pula kalau patok tak terbawa, bahkan penutup tenda juga ikutan lupa. Beruntung bawa flysheet untuk layer kedua, dan lebar tenda jadi tak maksimal. Gemerlap kota Sukabumi di timur, dan nyala lampu kota Bogor di sisi utara sana. Gede Pangrango nampak jelas, dan gunung Salak II yang nampak berhadapan.

Deden seolah jadi bintang pentas di bidang memasak, dengan ayam dan tempe goreng yang ia masak. Seolah berhasil mengobati lelah kami, membuat suasana kembali ceria. Yang ngakunya drop, yang ngakunya fisik keteter dan lemas sedari tadi, malah yang paling banyak makan hahaha. Jangan lupa berbagi ke tenda sebelah, biar berkah, wa. Urusan perut selesai, langsung meringkuk di sleepingbag. Rasanya nikmat setelah berjalan cukup lama, lurusin kaki lurusin 'cangkeng', dan tidur.

Tepat juga malam ini, malam Anniversary ke 3 saya bersamanya. Puput Sopyan, wanita yang berusaha ikut dalam pendakian ini, tetapi dipaksa kandas. Ya karena belum siap nya fisik, dan tamu bulanan yang datang tepat waktu yeah. Tak apa, gunung tak akan lari, salam nya bakal disampein kok. Taunya tahun ini ia berhasil menggapai puncak II, mendahului kami semua. Hahaha. Tahun lalu di anniversary kedua, kita mendaki bersama. Kisahnya bisa dibaca disini:https://novialanis.blogspot.com/2020/03/gunung-pertamaku-ekspedisi-double.html?m=1


Minggu, 19 April 2015
Tidur lelap full, baru kebangun pukul 5 pagi. Keluar ah, menyapa tetangga, melihat tenda berjejer beragam warna. Beberapa sudah ada yang sibuk merangkai kata, disecarik kertas. Ternyata bukan hanya kami saja yang merayakan kelulusan disini, terlihat ada beberapa siswa SMKN4 juga. Yaa saat itu kami berempat baru saja melaksanakan UN yang selesai Kamis lalu, Jumat prepare, hari ini berangkat deh. Sunrise cerah tanpa awan, ayoo keliling. Sudah penuh juga area camp pepohonan ini, dan kala itu masih ada plang hujau kuning Salak I dari TNGHS.
Puncak gunung salak
Puncak gunung salak


Ya April 2015 memang belum ada plang hitam besar yang fenomenal, hanya ada plat sederhana yang diikat di sebatang kayu, itu juga bisa dilepas dan dibawa suka-suka. Penanda Pos kuning hitam yang seringnya viral pun belum ada, sangat minim tanda. Terdapat makom mbah Salak juga tepat sedikit dibawah puncak Salak, saat itu kondisinya masih terawat, masih terbalut keramik rapi. Setelah puas berfoto sana sini, dari view GePang hingga Salak II, ayo masak lagi.
Makam di Puncak gunung salak

Dikolaborasikan dengan tenda sebelah, dengan menu ayam tempe bihun sosis sayur mayur, ah nikmat. Sambil packing pula, agar mudah saat pulangnya. Mencairkan suasana, kembali lah kami berombongan makan bersama. Langit masih biru, kabut belum terlihat, dan beberapa tenda sudah dilipat. Mulai terik berarti mulai sepi, beberapa kelompok sudah turun sejak pukul sembilan pagi. Dilanjut opsih, lumayan dapet 1 trashbag full. Diikat di carrier saya, yang kebetulan tak full pack lagi. Diikat rapia, direkat selotip, semoga tak tumpah ruah, dan semoga berkah, bismillah.

Puncak gunung salak

Ritual berfoto bersama rombongan, yang terlihat perkasa karena hampir membawa carrier semua. Kelompok kami yang terakhir turun kala itu, jadi bebas mau berfoto dengan gaya apa saja. Merasa beruntung dapat cuaca secerah ini, sudah hampir pukul 11. Hijaunya Sukabumi dan Bogor, lalu puncak II yang menambah nilai estetika. Berada di puncak tertinggi gunung Salak, adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya, dan kami SARGIATA.
Puncak gunung salak

Puncak gunung salak

Setelah berdoa bersama, kamipun bergegas turun. Tepat pukul 11 siang, melalui jalur yang sama, yaitu Cimelati. Harus hati-hati, beban sampah dan amanah soalnya ada dipunggung saya. Baru berpuluh meter rasanya, sudah terpisah lagi. Pada lari kali yak turunnya, posisi buncit lagi deh. Mau ikut lari juga beban berat, trasbag kena akar sembarang nanti sobek lalu ribet lagi hahaha. 11.15 tiba di pos 6, lanjut saja. 30 menit kemudian sudah di pos 4, pos 5 tak kami sadari terlewat begitu saja.

Perjalanan ke pos 3 berdua sama Aziz di paling belakang, dan seekor lebah yang seolah ikut menemani. Turunan curam dan berliku, dilewati secara perlahan. 1 jam menuruni lereng dan punggungan, akhirnya kami tiba di pos 3 pukul 12.45. Istirahat total disini, isi air, lurusin kaki, dan pergelangan kaki lecet ternyata bung. Makan siang disini, masak mie, membaur, dan larut dalam canda di pos tiga.

Lanjut jalan pukul tiga sore, diposisi belakang lagi kan. Oya sempet tadi ketemu rombongan peziarah, yang menuju makom mbah Salak. Dan pukul 15.30 kami sudah berada di pos dua. Dengkul semakin terasa, lemes brad. Tanah licin dan pipa peralon menandakan kami sudah berada di kaki gunung Salak, alhamdulillah. Dan tepat pukul 4 sore kami sampai di pintu rimba. Sampah lantas dibuang, membuat beban setengahnya berkurang.

Kembali ke peradaban, berjalan di aspal menurun dan berkelok. Menoleh kebelakang, kabut tebal telah menyelimutinya. Kaki dipaksa terus berjalan, melewati perumahan warga. Menuju rumah kang Erik yang punya acara, ternyata msh jauh euy dari pintu rimba. Langkah kami ditemani gerimis, dan pukul 5 petang kami baru tiba. Beberapa kawan sudah berpisah selepas pintu rimba tadi, menyisakan Aziz, kang Harun, Deden Hasan Solih dan saya.

Dijamu waa hahaha, mengisi energi untuk perjalanan pulang nanti, alhamdulillah. Sudah dapat pengalaman baru, teman baru, dan di jamu, menang banyak! Selamat ulang tahun kang Erik Fernando, yang entah keberapa, intinya semakin tua hehe. Diantar doi, temannya, dan kang Harun, kami menuju jalan raya untuk bergegas pulang. Aziz kearah Cigombong, dan kami berlima kearah Bogor. Pukul 6 kami resmi meninggalkan kawasan gunung Salak, dengan angkot, menuju kota Bogor, dan kembali kerumah masing-masing.

Terimakasih kang Erik atas acaranya, dan terimakasih kawan-kawan yang terlibat dalam pendakian kali ini. Belajar tentang pentingnya Survival kit, menjaga mental dan fisik, dan tentang kerendahan hati.

Terimakasih telah menerima kami semua, kami mohon maaf jika kami berbuat salah padaMu. Terimakasih juga telah melancarkan perjalanan kami, pengalaman yang luar biasa. Semoga bisa kembali, kepada ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam hutan rapat mu. Menjelajah puncak-puncak mu akan menjadi PR kami kedepannya, dan hingga saat ini telah terwujud. :)

SARAN:
Siapkan sepatu terbaikmu, dengan gaiter juga penting agar terhindar dari pacet.
Packing double, dengan cara sleepingbag dan baju ganti dimasukkan ke keresek yang tahan air agar tidak lembab.

CATATAN WAKTU:
18-4-2015
08.30 Terminal Baranangsiang
09.30 Lido, menunggu dijemput motor
11.30 Start mendaki
13.30 Pos 2 1085
14.00 Pos 3 1270, sumber air, break
16.30 Pos 4 1750
17.30 Pos 5 1900
18.00 Pos 6 1980
19.00 Puncak Salak 1 2211

19-4-2015

11.00 Perjalanan turun
11.15 Pos 6
11.45 Pos 4 (Gasadar kalau pos 5 terlewat)
12.45 Pos 3 break
15.30 Pos 2
16.00 Pintu Rimba
17.00 Rumah kang Erik
18.00 Pulang

Sabtu, 21 Maret 2020

PENDAKIAN GUNUNG MERBABU VIA WEKAS - SELO

MERBABU MERINDU, DAN KITA YANG MENGINGKARI MERAPI

MERBABU 3142MDPL BERSAMA JEJAK TRAVELERS INDONESIA

Lintas jalur WEKAS-SELO

18-22 DESEMBER 2014


Saran: dibaca sambil denger lagu Payung Teduh-Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan.

Kami yang masih berstatus pelajar, memang sedari lama memimpikan ekspedisi ke Jawa Tengah. Survey gunung sana-sini, yang pada akhirnya jatuh pada pilihan Merbabu dan Merapi. Dan secara kebetulan perhatian kami tertuju untuk naik bareng bersama Jejak Travelers Indonesia, disebuah forum diskusi group pendaki di Facebook. Ayo nabung!


KAMIS 18 DESEMBER 2014
Hari H pun tiba, setelah hari-hari sebelumnya selalu debat alot tentang anggota kami yang ikut, dan dana yang pas-pasan. Packing entah dari beberapa hari yang lalu, sangat excited deh pendakian kali ini. Yang akhirnya tim BABEH/SARGIATA yang berangkat yaitu Dery Deden Chandra Hasan Solih Putsop dan Rizki.
Seperti biasa kumpul dulu di markas Riau street sejak pagi, packing ulang dulu. Coba bikin project film pula dan memang sudah diniatkan, camdig pun bawa 2. 

Tengah hari kami berangkat menuju Terminal KP.Rambutan, tempat meeting point bersama JTI. Gerimis menyertai kedatangan kami, dan disambut kenek bus 'S*NTOSO' yang sangat rese. Tapi ambil positifnya, Solih yang jadi sasaran, dan jadi bahan candaan diperjalanan kali ini. Tak butuh waktu lama untuk menemukan rombongan JTI, yang terdiri dari beberapa pendaki sekitaran JABODETABEK, sekitar 18 orang. Membaur satu sama lain hingga sore, dan bus HANDOYO pun membawa kami menuju tempat tujuan pertama, Magelang.


JUMAT 19 DESEMBER 2016
Pagi ini disambut oleh si kembar, Sindoro dan Sumbing, yang awalnya kami kira itu Merbabu dan Merapi hehe. 07.30 pagi kami tiba di Terminal Tidar, Magelang. Bergabung dengan rombongan dari Jogja, semakin banyak dan semakin hangat deh. Membaur, dan pukul 08.40 berangkat menuju desa Wekas dengan 2 angkot yang kami carter, anggota berjumlah sekitar 24 orang. Berhenti sebentar disebuah pasar entah apa namanya, pelajar mah ga belanja coy hahaha. inget, hemat!
Gunung Merbabu mempunyai banyak Jalur, seperti Chuntel, Kopeng, Thekelan, Wekas, Selo, Suwanting, dan baru-baru ini ada lagi jalur Grenden. Tapi kami hanya mengikuti itenerary yang sudah ada, yaitu naik melalui Wekas dan turun jalur Selo, dengan opsi esoknya sudah bisa summit Merapi.
Terminal tidar Magelang

Pagi ini terbilang cerah, memasuki beberapa tanjakan yang menandakan kami sudah masuk kaki gunung. Semakin tinggi dan tanjakan semakin terjal, bahkan terkadang kami harus turun dahulu untuk meringankan beban angkot, sambil nyemil kerupuk sama ka Ontet yang bikin amandel kambuh hehe. Tiba di basecamp Wekas pukul 10.30, istirahat dan prepare ulang. Solat Jumat tentu jangan lupa, dengan khutbah yang tak kami mengerti bahasanya, menambah kesan unik kali ini. Cuaca berubah menjadi gerimis yang awet, baru naik aja udah hujan-hujanan huhu.

Start trekking pukul 1 siang, setelah acara perkenalan yang begitu singkat namun menyatukan. 'Puncak 5KM', plang itu yang membuat kami semangat karena 5KM jarak yang tak terlalu jauh. 
Plang dan orang ngeselin: hahaha
Wekas
Gerimis setia menemani perjalanan kami, trek awal melewati perumahan dan ladang penduduk. Perlahan memasuki hutan, tanah basah, cemara dan pinus yang menemani. Trek tanah menanjak yang licin, kami harus berhati-hati dalam berpijak.

14.30 atau 90 menit trekking akhirnya kami tiba di pos1 jalur Wekas, hanya ada sedikit lahan kosong dan pohon tumbang untuk alas duduk. Lanjut jalan lagi, semakin menanjak tentunya. Di trek kita bisa melihat jelas pipa air penduduk yang terbentang disisi kanan jalur. Mendekati pos 2 trek berubah melandai, dan semacam lembahan gitu deh.

Pukul 5 sore kami baru tiba di pos 2, lembahan terbuka dengan kanan kiri punggungan barat dan utara gunung Merbabu. Cuaca masih gerimis manja, aktifitas masak mie makan sore dan isi air. Menunggu magrib dengan menyantap mie kuah di nesting, ya 1 nesting mie dimakan bergantian dengan 7orang hehe.
Pos 2 jalur wekas
18.30 malam kami melanjutkan perjalanan, dengan hujan masih mengguyur Merbabu. Terjal dan bebatuan, perlahan terbuka memasuki punggungan. Sesekali angin semriwing lewat, Edelweis pun mulai terlihat. Sargiata berada didepan bersama ranger, untuk menambah motivasi, dan yang lain masih berjalan santai dibelakang. Angin kencang kembali menerpa saat mendekati tempat camp, tetap tabah dan kuatkan mental.

Dan perjuangan hari ini selesai, 20.30 kami tiba di tempat camp. Lembahan kecil di pertigaan jalur Thekelan, Wekas dan Puncak. Beruntung gerimis sudah reda, lanjut buka tenda, lalu masak. Sebagian rombongan langsung tidur, tetapi kami memutuskan untuk masak dulu, karena minimnya karbohidrat yan masuk ke perut hari ini. Lanjut tidur sekitar pukul 10 malam, hari yang panjang ini pun selesai.


SABTU 20 DESEMBER 2014
Terbangun pukul 5 pagi karena alarm yang disetel, dan ramainya rombogan kami yang sudah bangun. Saat keluar tenda, viewnya luar biasa cuy. Cerah pagi ini, terlihat gunung Andong yang imut, diikuti si kembar Sindoro Sumbing yang gagah. Foto-foto banyak disini, view eksklusif soalnya hehe. Disebelah kiri terlihat pungungan yang dipenuhi Edelweis, dan dikanan terlihat puncak Pemancar, salah satu dari 7 puncak Merbabu.


Packing sambil dihibur goyang dumang, jir gokil siah, dan sangat disayangkan sekarang dokumentasinya entah kemana. Pukul 9 pagi rombogan bersiap melanjutkan perjalanan, kabut tebal bahkan sudah menyelimuti sepagi ini. Terjal pastinya, 1/2 jam kami sudah tiba di punggungan puncak. Sayangnya kabut tebal menutupi penglihatan kami, hanya berjalan saja dengan sesekali mencium aroma belerang disisi kiri lereng kawah.
Pukul 10 kami tiba di puncak Geger Sapi 2967mdpl, dinamakan Geger Sapi karena katanya puncaknya mirip sapi (masa sih pak?). Masih naik turun bukit, dan pukul 10.30 tiba di pertigaan. Keatas menuju puncak Syarif dan kebawah lanjut menyusuri lereng. Kata rangernya sih paling hanya 15menit bulak balik ke Syarif, dan kebetulan kami paling depan, ya mampir saja dengan barang dititipkan di pertigaan.
Puncak Geger sapi gunung merbabu
Puncak Syarif 3119mdpl berhasil kami gapai, terimakasih Tuhan. Sangat disayangkan plang-plang sepanjang perjalanan sangat dipenuhi coretan tangan jahil, budaya buruk kita yang masih bertahan. Lanjut turun dan bergabung bersama rombongan lainnya, mereka tak naik ke Syarif, dan lebih memilih melanjutkan perjalanan. Bersama menaiki terjalnya batu punggungan puncak, dengan cuaca berkabut gerimis seperti ini.
Setelah puncak Syarif, masih ada 1 puncak lagi yaitu puncak OndoRante. Entah mengapa dinamakana itu, mungkin mirip rante (masa sih pak) (2). Tak kami lewati karena dirasa terjal dan memakan waktu lama, cuaca masih gerimis kabut pula, berbahaya katanya.
Puncak syarif

Melanjutkan perjalanan, dan pada akhirnya kami tiba di tempat, yang dari sebelumnya sudah kami khawatirkan, yaitu 'Jembatan Setan'. Sebuah jalan selebar >30cm dengan panjang kurang lebih 5m, dengan kanan punggungan bebatuan dan kiri jurang. Tetap tenang, konsentrasi, dan doa. Kami dan rombongan dengan baik melaluinya, alhamdulillah. Lanjut menyusuri lereng lagi, dan melipir kiri.
Jembatan setan gunung merbabu
Memang ada beberapa persepsi tentang 'Jembatan Setan' gunung Merbabu, yaitu yang saya ceritakan ini. Dan satu lagi jembatan sebelum Geger Sapi tadi, jembatan yang kanan kiri jurang, tetapi tetap masih dengan batas aman. Tapi kalau ada angin kencang ya, ngeri juga jon!
Jembatan setan versi menjelang Geger Sapi:
Menjelang Kenteng Songo:
Jalur makin gila sekarang, tanjakan bebatuan licin menuju Kenteng Songo. Pelan-pelan saja, yang penting selamat. Dihantam tanjakan super lagi, tetapi trek batu berubah menjadi tanah licin. Webbing dikeluarkan disini, untuk mengantisipasi keadaan. Dan pada akhirnya, setelah ditarik dengan webbing yang agak didramatisir. Kami semua tiba di puncak Kenteng Songo 3142mdpl pukul 11.30 siang, bersyukur sekali rasanya.
Touchdown haha
Puncak Kenteng Songo
Puncak Kenteng Songo

Siang di puncak Kenteng Songo Merbabu, kabut tebal masih setia menyelimuti. Terlihat diseberang sana puncak Trianggulasi, puncak tertingginya gunung ini. Terdapat 4 batu berlubang(kenteng) yang bisa kita lihat, berfungsi sebagai sumber air dimusim hujan. Mitosnya hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat total 9 kenteng ini, ketemu 4 kenteng aja udah syukur pak, apalagi 9.
Hujan malah semakin deras, buka flysheet dan beristirahat sejenak disini. Lanjut masak mie, dan salah satu anggota kami, Putsop mengalami gejala hipotermia. Ranger dan rombongan lain bergegas membantu, cepat tanggap mengatasinya. Dipakaikan beberapa jaket, air hangat dimasukkan ke botol dan diolesi keseluruh badan yang dingin. Ranger dan senior yang beraksi, sementara kami hanya memegang flysheet, memasak air, dan bahkan keliling-keliling pake ponco :d

Tetapi kejadian itu malah membuat kami semakin erat, karena sedari tadi masi malu-malu hehe. Canda tawa pecah dibawah flysheet beratap guyuran hujan, dingin berhasil dikalahkan dengan kebersamaan. Perlahan mereda, dan kabut yang mulai menyusut. Merapi perlahan menampakkan dirinya, dan sabana-sabana jalur Selo terlihat begitu indah.
Puncak Kenteng Songo

Setelah makan siang seadanya dan diganjal dengan beberapa cemilan, kamipun bersiap turun. Memang terlalu beresiko berdiam di puncak dengan cuaca seperti ini, kamipun melanjutkan turun pukul 3 sore. Puncak Trianggulasi tak sempat kami datangi, padahal hanya 5 menit dari Kenteng Songo huhu. Turunan curam menuntun kami perlahan, dengan tanah yang gembur sehabis hujan. View PHP terlihat dekat namun jauh saat melangkah, yang kami rasakan saat perjalanan turun.

Pukul 4 sore kami tiba di Sabana II, sabana yang teramat luas, hijau berembun sejauh mata memandang. Sangat terbuka, terdapat beberapa pohon disisinya, tempat favorit untuk buka tenda. Lanjut turun dengan trek landai, dan tiba di Sabana I pukul 5 sore. Rombongan memutuskan kembali camp disini, karena gerimis yang selalu mengikuti dan hari yang mulai petang. Ya maksimalkan menampung air lewat flysheet, stok air kami semakin menipis.

Masak, bercanda sambil istirahat. Ya candaan khas PO bis yang rese di Rambutan kemarin, seakan tak ada habisnya. Tak banyak tingkah malam ini, kami tidur dengan nyenyaknya. Meski harapan mendaki Merapi mulai pupus, karena sudah tak ada waktu, dan cuaca yang seperti ini.


MINGGU 21 DESEMBER 2014
Saya pribadi tak bisa tidur karena sleepingbag yang kebasahan, hanya melamun dan sesekali mendengar obrolan pendaki yang sedang persiapan summit. Pukul 5 pagi sudah bangun semua, menikmati sunrise di Sabana I. Terlihat didepan mata, gunung Merapi. Dan di timur, gunung Lawu dari kejauhan. Disisi barat terlihat si 3S (Sumbing Sindoro Slamet), dan punggungan Merbabu yang begitu indah. Hijau nan penuh Sabana, dengan jalur berundak ke titik tertingginya.
Sabana 1 gunung merbabu

Sabana 1 gunung merbabu
Jemur baju, jemur peralatan, dan lanjut masak kembali. Sebagian opsih, dan packing. Berkumpul kembali bersama rombongan lainnya, lautan awan menyambut kami pagi ini. Berfoto bersama semuanya, untuk dokumentasi. Ya sadar kebersamaan ini akan segera berakhir, kami bergegas turun pukul 10 siang.
Tetap curam dan masih terbuka, dan kami tiba di pos Batu Tulis 1 jam kemudian. Trek perlahan memasuki hutan, dan turun terasa begitu cepat. Jarak antar pos pun tak terlalu jauh, dengan medan agak landai dan tanah normal.

Tiba di pos 3 pukul 11.15, lanjut tak ada istirahat. 11.40 saja sudah di pos 2. Dan tepat tengah hari kami berada di pos1. Kehausan intinya, karena diperjalanan turun saya tak sempat minum. Melewati pinus khas kaki gunung, akhirnya kami tiba di basecamp Selo tepat pukul 1 siang. Foto dulu di plang iconicnya hehe, dan lanjut ke basecamp untuk istirahat. 
Basecamp selo gunung merbabu

Basecamp selo gunung merbabu

Basecamp selo gunung merbabu
Penghabisan logistik, makan besar dibasecamp. Management logistik sudah matang padahal, namun ya memang belum waktunya ke Merapi huhuhu. Mandi bebersih deh intinya meski airnya dingin sekali, 3hari gamandi waa piraku. Kamipun bergegas ke terminal, meninggalkan Selo,kaki Merbabu.

Keputusan tak jadi mendaki Merapi, karena memang sudah tidak ada waktu. Karena kejadian Hipotermia di Kenteng Songo, yang menyebabkan kita menambah hari di Merbabu. Merapi, maafkan kami yang mengingkari Mu. 

Kamipun tiba di terminal pukul 6 sore, entah terminal apa saya lupa namanya hehe. Menumpak bus Damri, kamipun langsung terlelap semua.

SENIN 22 DESEMBER 2014
Sempat dibangunkan untuk makan malam, sudah makan lanjut bobo lagi. Pagi ini sudah di Pantura lagi, dan rombongan perlahan mulai berpisah. Kami SARGIATA turun di pasar Rebo, pamit meninggalkan rombongan yang tersisa. Ya pukul 2 siang kami kembali ke rumah, kota Bogor. Menuju markas lagi, rumah Deden. Dan kembali menuju rumah masing-masing.
The end.


Dan ini adalah kami, yang tadinya tak saling mengenal, disatukan di salah satu gunung terindah tanah Jawa.
Bang Hilman, teh Ontet, teh Mala, teh Izul, teh Fhiya, Firka, Abay, Botak, Hendrik, Kemal, Ian, mas Amat, mas Jabrik, mas Kiting, mas Umam, bang Kemoy, Dery, Deden, Solih, Chandra, Hasan, Puput dan saya.

Terimakasih semuanya, kenek bus ngeselin, kabut dan gerimis Merbabu, dan para Sabana yang teramat indah. Bangga pernah mendaki bersama kalian, terutama JEJAK TRAVELERS INDONESIA.
Dan Merapi, semoga kau tetap tenang, seperti ini. Semoga akhir tahun ini bisa menyapa mu kembali 
7 puncak gunung Merbabu:
1. Watu gubuk 2729mdpl
2. Watu Tulis (pemancar) 2920mdpl
3. Geger Sapi 2967mdpl
4. Puncak Syarif 3119mdpl
5. Puncak Ondorante 3112
6. Puncak Kenteng Songo 3140mdpl
7. Puncak Trianggulasi 3142mdpl
*berhasil mendaki 3 dari 7
*diolah dari berbagai sumber
*mohon maaf bila ada kesalahan nama, nama tempat, dan altitude puncak. Kisah 2014 lalu jadi sulit untuk mengingat detailnya :)

CATATAN PENDAKIAN
19-12-14
13.00-14.30 Wekas - Pos 1
14.30-17.00 Pos 1 - Pos 2
18.30-20.30 Pos2 - Tempat Camp sebelum pertigaan jalur Thekelan/Cuntel-Wekas-Puncak
20-12-14
09.00-10.00 Camp - Gegersapi
10.00-10.45 Gegersapi - Puncak Syarif
10.45-11.30 Puncak Syarif - Jembatan Setan - Puncak Kenteng Songo
15.00-16.00 Kenteng songo - Sabana II
16.00-17.00 Sabana II - Sabana I camp
21-12-14
10.00-11.00 Sabana I - Batu tulis
11.00-11.15 Batu tulis - Pos 3
11.15-11.40 Pos 3 - Pos 2
11.40-12.00 Pos 2 - Pos1
12.00-13.00 Pos 1 - Basecamp Selo
PENDAKIAN GUNUNG GEDE VIA CIBODAS
20 JAM DI GUNUNG GEDE

4-5 OKTOBER 2014

Idul Adha 1435H


Sabtu 4 Oktober 2014
Tim daypack BABEH. Terdiri dari Dery Setiadi (ketua tim) Deden Wardani, Hasanudin, Muhamad Solih dan saya Riski Novialani, mencoba mendaki gunung Gede malam hari. Meski berdaypack ria, tapi persiapan tetap matang, seperti flysheet, jas hujan, jaket, makanan dan minuman secukupnya. Kalau dulu sih masih boleh, dan sekarang sudah dilarang sepertinya.

Berangkat pukul 6 sore dari Tugu Kujang, setelah melihat tikus besar didepan Masjid Raya. Ya Solih dan Deden masuk ke got karena pecicilan dan ada barang yang jatuh, jadi mau ga mau ya harus menyusuri got hahaha.

 Naik angkot 01 Ciawi dengan ongkos 3rb/orang, jalan santai 1kman cari minimarket dari perempatan Ciawi hingga RSUD. Alasannya karena Gas yang lupa dibeli, kebiasaan.
Gas berhasil didapat, lanjut menumpang bus kearah Cibodas yang penuh sesak, dengan ongkos 10rb/orang. Berjejal, bahkan Dery terpisah dengan kami dibelakang. Tetapi beruntungnya ditengah jalan ada teteh-teteh cantik naik bus di pintu belakang, wah menang banyak doi, pikir kami berempat. Berdiri hingga tujuan, rasanya kaki pegel duluan coy. Setelah hampir 2jam berdesakan, akhirnya kami berlima bisa keluar bis dan menghirup udara segar. Cibodas cerah malam ini, lanjut menyambung angkot dengan ongkos 5rb/orang. Angin mulai menusuk tulang, kami berlima pun tiba di pos pemeriksaan simaksi pukul 21.00.

Ada hal unik disini, saat pemeriksaan simaksi. Saya dan Deden yang diutus tim untuk lapor, karena terlihat paling safety. Alhasil tak berjalan mulus, lalu kami semua diharuskan berkumpul untuk pemeriksaan. Boom! Yang tidak pakai sepatu diwajibkan membuat surat pernyataan bermaterai 6000, Dery dan Hasan pun terjaring. Daripada harus nyari materai sendiri kebawah jam segini, alhasil kena chas 10rb untuk surat pernyataan. Suasana mendadak bete, karena uang segitu sangat berharga bagi kami pelajar yang membawa uang pas-pasan. Entahlah, tapi memang harus diakui kami juga yang salah. Yuk isi air, dan berdoa untuk kelancaran perjalanan kita.

Start pendakian pukul 21.40 malam, dengan membawa titipan simaksi SMK Sumbangsih, karena kedua temannya turun duluan. Perjalanan berlangsung hening, tenang, dan dingin. Tak begitu lama bertemu kelompok Sumbangsih, lanjut memberikan Simaksi, dan tugas selesai. Tak terasa 35 menit berjalan, kami tiba di Telaga biru. Airnya sudah mengalir deras, padahal Juni lalu airnya sempat mengering. Istirahat, minum, dan lanjut lagi, 5menit berjalan lalu tiba di Rawa Ganyonggong. Jembatan beton yang panjangnya kurang lebih 1km, angin dingin kembali menusuk tubuh kami. Tapi kerennya siluet Pangrango terlihat jelas, dan taburan berjuta bintang menambah indah malam ini.

Hampir 1 jam kami trekking dari Cibodas, akhirnya tiba juga di Panyangcangan. Lurusin kaki sebelum berjalan di trek panjang, dan deru air terjun Cibeureum memecah keheningan malam. Ya obrolan kami semakin berkurang seiring terkurasnya fisik, jalan menanjak panjang kedepan. Tak kami temui pendaki lain selama di trek ini, dan tim kami pun mulai terpecah. Deden Hasan perlahan didepan ngebut, dibelakang ada saya Dery dan Solih yang sibuk menahan kantuk.


Minggu 5 Oktober 2014
Tepat tengah malam ini kami baru tiba di Pos Air Panas, Deden Hasan sudah buka terpal aja, pertanda mereka sudah agak lama menunggu kami. Perjalanan terus dilanjutkan, melipir sungai Air Panas dengan sisi kanan jurang menganga. 00.30 kami berlima tiba di Pos Kandang Batu, sudah banyak tenda berdiri disini. Lanjut lagi lah, menuju Kandang Badak. Trek menanjak tak begitu terasa karena kami berlima membawa daypack, langkah kami pun begitu stabil hingga saat ini.
Pukul 01.20 kamipun tiba di pos Kandang Badak, weekend kali ini bahkan sudah ada warung berdiri. Warna warni tenda, dan dengkuran tidur pendaki yang kelelahan seakan menyambut kami kala itu. Setelah isi air, kamipun sepakat untuk beristirahat dahulu disini sebelum summit. Beralaskan spanduk, terpal, dan jaket, kamipun tidur begitu saja. Menahan dingin, istilah nya mah 'noroktok' waa.

Tak begitu nyenyak, dan saling menempel satu sama lain biar agak anget.
Akhirnya kami dibangunkan alarm yang begitu menyebalkan, packing dan siap-siap untuk summit. Pukul 02.30 pagi berjalan menuju puncak Gede, sesekali menyalip rombongan lain untuk efektifitas waktu. Melewati Jembatan Rante dengan lancar, ditemani Pangrango yang menjulang tepat dibelakang kami. Terus menanjak, vegetasipun mulai berubah. Mendekati puncak angin kembali menerpa kami berlima, terus berjalan melawan hawa dingin.

Tiba di puncak bayangan pukul 4 pagi, gemerlap lampu kota Cianjur masih terlihat indah. Sinar rembulan dan langit yang masih berbintang, perlahan berganti dengan garis horizon oranye diufuk timur. Berjalan terengah-engah melewati trek pasir yang memuakkan, dan fisik juga yang mulai kewalahan. Perlahan saja, puncak Gede tinggal didepan mata kok.

Pada akhirnya kami tiba di puncak gunung Gede 2958mdpl pukul 04.40 pagi, tepat 2 jam perjalanan dari Kandang Badak tadi. Tarik flysheet, gelar spanduk dan terpal, bikin masakan dan cikupi. Sunrise yang begitu indah kami lewati begitu saja, karena lupa membawa kamera huhuhu. Perut terisi, tinggal nyantainya saja. Menikmati sunrise live diketinggian, dokumentasi seadanya pake HP Solih yang tak begitu canggih.
Puncak gunung Gede

Puncak gunung Gede

Cerah hari ini, Pangrango, Salak, dan bukit-bukit daerah Puncak terlihat jelas tanpa awan. Puas berfoto ria, saya dan Dery bergegas menuju Alun-alun SuryaKencana untuk isi air lagi, dan mereka bertiga tidur di flysheet.

Terasa cepat dan sedikit berlari, hanya 15menit dari puncak ke Alun-alun. Suasana menguning dan agak gersang, bekas terbakarnya sebagian saat Agustus lalu. Ala-ala savana Afrika, Suryakencana kala itu. Edelweis yang sudah mekar mentok dan menguning, bahkan memasuki fase layu. Rasanya ini lembah terindah, maklum baru kali ini saya ke alun-alun SuryaKencana. Berfoto ria lagi, dan lanjut isi air. Beruntung mata air tak mengering, karena kemarau hebat beberapa bulan lalu. Bahkan beberapa gunung di pulau Jawa sempat terbakar lumayan hebat, sedih wa tapi tak bisa berbuat banyak :'(

Beban berubah menjadi menyiksa, jalan perlahan memelan. Setelah tadi turun berlari, sekarang naiknya ngesot coy. Terasa lama sekali, mana doi ga peka gamau gantian bawa daypack :D Tetapi semua kadang terbayar, saat menoleh ke Surken, tiba-tiba kabut mengalir dinamis dari Timur ke Barat, menutupi sebagian alun-alun.

40menit menanjak, dan tiba kembali ke puncak Gede pukul 08.40 pagi. Ngos-ngosan deh, Dery gabung tidur sama anak-anak yang sudah pulas sedari tadi. Saya sibuk memasak sosis, nyemilin roti dan nabati. Tiba-tiba ada seorang pendaki yang bertanya pada saya, ada air lebih atau tidak. Dengan enteng saya jawab: "ada tuh bang, di Surken.". Tiba-tiba saya di tendang bebas ke kawah, hahaha. Tentunya itu hanya bercanda, dengan senang hati saya berikan 1,5liter air, dan dibalas dengan 600ml ciu katanya. Tapi tidak saya terima, dan tak habis pikir saja sampai bawa gituan kesini, ke tempat ini.

Puncak gunung Gede

Puncak gunung Gede

Lumayan lama bertidur ria disini, karena cuaca cerah, fisik yang lelah, dan tak begitu ramainya pendaki weekend kala itu. Pukul 11 siang baru pada bangun semuanya, ayo prepare lagi. Lipat terpal spanduk dan flysheet, yuk turun gunung. 11.20 perlahan meninggalkan puncak gunung Gede yang perlahan berkabut, terimakasih untuk cuaca cerah pagi ini ya De (panggilan akrab gunung Gede). :D Terasa cepat, dan karena tak banyak beban yang kami bawa saat pulang.
Nah dari Jembatan Rante kami berinisiatif turun melewati jalur lama, lagi-lagi paketua Dery yang jadi penunjuk jalan.

Melipir kanan, bukan lurus. Setapak mulai tertutup karena jarang dilalui, dan kami menemukan plang-plang usang khas jalur jadul. Intinya sih lebih lama, dan lebih bervariasi naik turunnya, dengan bau belerang disisi kanan jalur. Jua menemukan pertigaan yang agak samar, indikasi bisa ke kawah gunung Gede. Kamipun tiba di Kandang Badak pukul 12.30, dengan muncul dari sisi kiri perempatan arah gunung Gede dan Pangrango.

Isi air lagi, dan lanjut turun. Diperjalanan sempat buka sisa logistik untuk cemilan makan siang, dan rencana di Telaga Biru kita akan makan besar lagi. Melalui Kandang Batu dan tiba di Air panas pukul 13.30 siang, bablas lagi brad. Jarang bertemu pendaki padahal sedang weekend, dan kami baru sadar kalau hari ini bertepatan dengan Idul Adha 1435H. Yah pantas saja gema takbir berkumandang saat perjalanan berangkat kemarin, dan suara sayup-sayup takbir sedikit terdengar dari puncak Gede.

Diperjalanan Dery selalu ngomongin 'ngodok' yang entah maksudnya apa, segala sesuatu dihubung-hubungan dengan kata itu, dan membuat kami tertawa lepas. Gila memang, dan kata itu yang jadi bahan obrolan terus menerus. Dan obrolan stres ini yang menjadi inspirasi nama ekspedisi kami, yaitu 'Kokodok Expedition'. Satu jam lebih kami baru tiba di Panyangcangan, padahal baru satu jam tapi terasa begitu lama. Tadinya mau main dan masak di Cibeureum, tetapi karena banyak wisatawan, jadi ya lebih baik diurungkan saja. Lanjut turun, Pangrango sudah tertutup dilihat dari Rawa Ganyonggong.

Pukul 3 sore akhirnya kami tiba di Telaga Biru, pos yang direncanakan untuk makan besar. Bongkar peralatan lagi jon, sumber air juga tinggal 'nyerok' doang istilahnya mah. Masak tepat didepan danaunya, dengan menu kornet, sosis, sop, sarden, dan kentang goreng. Meski kadang diganggu babi hutan, tamu pribumi yang tak diundang hehe. Ekspetasi ya memang nikmat, tapi lagi-lagi tak habis, memang masakan dan menunya aja inimah yang kebanyakan hahaha.

Gokilnya Hasan berniat baik menawarkan makanan ke beberapa rombongan yang sedang lewat, tidak dijawab, malah dilihat secara sinis pula oleh mereka. Dia yang nawarin dan dia yang jawab sendiri, kamipun tertawa ngakak dibuatnya. Ditambah ngakak karena kebetulan ada rombongan lain yang lewat sedang memutar lagu Judika-Aku yang Tersakiti, tepat dengan suasana kala itu hahaha.

Perut sudah kenyang, dan akhirnya kami turun menuju Cibodas pukul 5 sore. Diperjalanan kami terus bercanda, seolah hari itu milik kami berlima. Menemukan polybag yang berisi full sampah, yang ditinggal begitu saja oleh pendaki tak bertanggung jawab. Yasudah kami angkut saja dan bawa kebawah, karena memang kami tak terlalu membawa banyak sampah kali ini.

Tiba di pos akhir, yaitu Cibodas pukul 17.30 sore. Tak disangka kami dipuji oleh penjaga pos SIMAKSI karena membawa sampah banyak, padahal kami sempat diremehkan saat naik kemarin malam. Sampe diberi minum pula, duh jadi terharu, padahal kami bawa sampah banyak hanya dari Telaga Biru, pak :D Tak berlama-lama, akhirnya kami pamit pulang pukul 6 sore, pamit kepada penjaga pos simaksi, dan kepada gunung Gede Pangrango.

Lanjut naik angkot kebawah dengan tarif 5rb/orang, lanjut menuju Bogor dengan nyari tumpangan. Awalnya sih dapet, tapi cuma sampai Puncak, nunggu tumpangan lagi tapi gadapet-dapet. Pasrah dan karena hari yang semakin malam, kami menyerah dan kembali naik bus menuju Ciawi, 10rb/orang. Hanya istirahat dan tidur yang bisa kami lakukan, karena Puncak macet dihari libur, apalagi Idul Adha seperti ini.
Dari Ciawi naik angkot menuju BaranangSiang, 3rb/orang. Untuk transport ya sama seperti berangkat kemarin, dan tiba di markas besar, rumah Deden pukul 21.30. Langsung pulang sajalah karena kami mengejar istirahat dirumah, karena hari esok harus sudah sekolah lagi.
"Saat kita berjuang bersama-sama meraih suatu sasaran, terkadang kebersamaan yang kita lalui lebih penting daripada sasaran yang telah kita capai."

Kaos abu hijau yang melegenda.
Terimakasih Tuhan, atas izinmu kami berhasil mendak gunung Gede kali ini.
Terimakasih Gede Pangrango, atas keramahan dan cuaca cerah hari ini.
Terimakasih tikus mesjid raya, teteh cantik di bus, materai 10rb, Sumbangsih, pendaki ciu, babi hutan yang iseng, dan rombongan sinis, yang menambah cerita kami kali ini.
Dan terimakasih kalian, atas segala kekompakan, dan kehangatan. Semoga kita semakin erat, dan kembali berpetualang lagi bersama.

CATATAN WAKTU :
4-10-14
18.00 Tugu Kujang
21.00 Cibodas
21.40 start trekking

5-10-14
00.00 Air Panas
00.30 Kandang Batu
01.20 Kandang Badak, tidur sejenak
02.30 Summit attack
04.00 Batas Vegetasi
04.20 Puncak Gede 2958
07.00 Menuju Alun-alun Suryakencana
07.15 Alun-alun Suryakencana
08.00 Kembali ke Puncak Gede
08.40 Puncak Gede
11.20 Perjalanan turun
12.30 Kandang Badak
13.30 Air Panas
15.00 Telaga Biru, masak
17.30 Cibodas
21.30 Bogor kota


Jumat, 20 Maret 2020

PENDAKIAN GUNUNG PANGRANGO VIA CIBODAS

PENDAKIAN GUNUNG PERTAMA
EKSPEDISI DOUBLE SUMMIT PANGRANGO 3019 DAN GEDE 2958
17-18 APRIL 2014

"Bukan cerita tentang hebatnya kami, tapi tentang pelajaran yang kami dapat di pendakian penuh makna kali ini."


RABU 17 APRIL 2014
Pertama kalinya saya melakukan pendakian ke gunung sebenarnya, dengan organisasi sederhana yang anggotanya itu-itu saja hahaha. Hari-hari yang panjang sebelumnya telah kami lewati, dari pembagian materi, latihan fisik, bahas peralatan, dan sewa barang sana-sini. Dan pada akhirnya, hari H tim berkumpul di markas (batagor Dery) pukul 9 pagi. Beranggotakan Dery, Chandra, Deni, Deden, Doeja, Hasan, Solih, Puput, Tolib, Toke (saya) dan sang pembina, mang Wawang Asgar.

Hujan menemani perjalanan kami menuju Cibodas, menggunakan colt mini, yang masih 20rb hingga basecamp kala itu. 11 orang dan beberapa keril ditumpuk, dipaksa muat kedalam colt yang tak begitu besar. Sehabis maghrib ngeng, tak begitu macet jalur Puncak kala itu.

Istirahat di balai informasi, masak beberapa mie, lalu tidur untuk persiapan fisik esok hari. Persiapan kami jauh lebih matang, dibanding mendaki bukit Kapur tahun lalu hihi.

TNGGP mempunyai 3 jalur resmi, yakni Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Dan beberapa jalur ilegal nan mempesona, namun 2014an kita masih belum tau apa-apa haha ✌️


KAMIS 18 APRIL 2014
Keramik yang dingin membuat kami tak nyenyak, gigi gemeletak dan sesekali menggigil. Bangun subuh untuk packing, dan siap untuk start pendakian. Tepat pukul 6 pagi, setelah berdoa dan briefing, perlahan kami menuju tujuan pertama, yaitu pos Kandang badak.

Diawal melewati jalan berbatu yang tersusun rapi, coba beradaptasi dengan suasana ini. Tak terlalu ramai karena hari kerja, dan tiba di pos Telaga Biru 1jam kemudian. Sebuah telaga yang berwarna biru (masa sih pak?) dengan sungai mengalir disisi kirinya. Tetap lanjut dan tiba di jembatan beton yang panjang, kira-kira 1KMan lah ya. Bernama pos Rawa ganyangagung/Rawa ganyonggong. Tujuan kami, gunung Pangrango terlihat berdiri gagah dari sini, terlihat dekat dan membuat semangat (padahalmah...) Naik dikit tiba di Panyangcangan, dan terdapat pertigaan disini. Lurus untuk melanjutkan pendakian, dan ke kanan untuk kearah air terjun Cibeureum. Istirahat disini, karena trek panjang siap menanti, katanya.
Terasa lumayan lama, karena setengah dari kami adalah pemula. Trek monoton, menanjak naik belok kanan belok kiri. Sesekali ada jalan pintas yang langsung menanjak, namun malah menambah lelah. Sesekali melewati beberapa pos PHP (sekarang pos Batu Kukus namanya), kirain bentar lagi, taunyaaa. Deru air seakan menandakan sudah dekat, taunyaaa (2). Update sekarang sudah ada pos berbentuk bangunan, yang bernama Rawa Denok 1&2 dan Batu Kukus 1&2. Setelah menanjak, dan ada sedikit bonus, akhirnya kami tiba di pos Air Panas sekitar pukul 11 siang. Istirahat bentar lalu lanjut lagi, menyebrangi air panas. Ngeri juga ya, bagai dua sisi simalakama. Dikiri air terjun panas yang deras, dikanan jurang menganga bebas. Tenang, dan berpegangan. Akhirnya kami bisa melaluinya dengan lancar. Naik sedikit 5menitan, boylah kami tiba di pos Kandang Batu. Tempat datar yang lumayan luas, sudah berdiri beberapa tenda juga disini.

Air terjun Pancaweuleuh pun mengalir indah, kami tak mampir kesana karena perjalanan yang masih panjang. Trek berubah semakin berat, menanjak dengan beban masih full. Perut mulai lapar, matahari terik kala itu, seakan menyiksa. Betis yang mulai panas, dan jawaban PHP dari pendaki lain yang mengesalkan. Lurus menanjak normal lalu melipir kanan, akhirnya kami tiba di titik pertama tujuan, yaitu pos Kandang Badak tepat pukul 12 siang.

Saya sebagai pemula, sangat bersyukur bisa sampai sini. Padahal masih bawa daypack, dan sesekali gantian sama keril yang hanya berukuran 40liter.
"Bagi tugas, isi air, bangun 1tenda, ayo masak, cepat". Kata mang Wawang, kala itu.
Sekali lagi, sebagai pemula yang kurangajar,  saya hanya bisa melihat mereka memasak, seakan menonton demo 'MasterChef' pecinta alam. Hanya bantu-bantu yang ringan saja, dan packing persiapan menuju Pangrango sore ini. Perut terisi, keril ditumpuk di 1 tenda itu, berdoa, dan bismillah.

Pukul 2 siang, hari masih cerah, perlahan menuju gunung Pangrango. Naik dikit ketemu pertigaan, lurus kearah gunung Gede, ke kanan arah gunung Pangrango. Ambil kanan, dan semangat! Bawa tiga daypack, berisi makanan, air dan jas hujan. Dery dan Doeja masih memimpin perjalanan ini, dengan pak Pembina masih jadi penyapu. Trek makin menanjak, kesabaran mulai diuji.
"Semangat ke, itu liat udah terang, puncak dikit lagi", kata-kata Solih yang omdo yang masih terngiang jelas hingga sekarang.

Perlahan turun kabut tebal, cuaca menjadi mendung. Saya sebagai pemula, mulai khawatir. Daypack gaada coverbag, trek makin berat, pula. Hujan deras pun turun begitu saja, ea bakbikbek ripuh bongkar jas hujan. Deras sekali, trek terjal menjadi jalur air seolah curug. Daypack ditutupi polybag meski sedikit terbuka, dan keputusasaan mulai menghantui batin saya.

Bertemu rombongan ditengah perjalanan yang sedang berteduh di flysheet, sapa sedikit dan kami tetap lanjut jalan. Sepatu kemasukan air, trek terjal, sempit, melalui derasnya air, seakan tak sanggup saya. Apalagi bertemu pohon tumbang, yang kalau melangkahi, ribet. Kalau mengolongi, dengkul lemes. Berlangsung 1jam diguyur hujan punggungan Pangrango, dan tiba di tanjakan terakhir. Ya mental yang down, fisik yang terkuras, dikasih tau tanjakan terakhir, maka lari lah saya keatas. Sinar mentari sore diufuk barat, disela-sela pepohonan puncak Pangrango. Berjalan cepat melipir kanan nan landai, akhirnya team kami tiba di titik tertinggi kedua Tanah Sunda.

Puncak Pangrango 3019mdpl, pukul 5sore. Perjuangan terbayarkan, saling berpelukan, bersyukur, tak percaya kita bisa melangkah sejauh ini. Tugu berwarna biru, dan bangunan kayu rapuh menjadi penanda. Nyemil, berfoto, sore yang cerah, dan kawah & puncak gunung Gede yang memanjang terlihat dari sini. Memutuskan tak mengunjungi lembah kasih, karena waktu yang teramat mepet. 10menit turun lagi, karena tubuh menggigil kebanyakan diam.
Puncak gunung pangrango

Tau lah kalau sepatu kemasukan air, dipakai jalan bagimana rasanya? Sekarang turunan terjal nan licin siap menanti, dan tetap harus hati-hati. Menyalakan headlamp, kemaleman di jalan sudah pasti. Bawaan berkurang, tapi tetap turun dengan langkah tak nyaman. Rasanya ingin segera pulang saja, ngemie diwaktu maghrib ini, tidur nyaman dikasur. Tak seperti sekarang, meraba jalur yang bercabang nan licin, dengan sepatu yang sangat tak nyaman. Intinya diperjalanan turun lancar, meski beberapa kali Dery (yang cari jalur) agak kesusahan dan coba kasakusuk cari jalan yang benar. Jalur landai melipir kanan, lampu-lampu tenda Kandang Badak, dan pada akhirnya kami tiba ditempat camp pukul 9malam.

Bersyukur, tapi kami tak bisa tidur begitu saja. Bangun tenda, masak air, coba terangin ini itu, bantu si itu, flysheet agak kesinian, repot cyin hahaha. Pada akhirnya 3 tenda berdiri, tinggal nyusu dan ngemie saja malam ini. Terpaksa ada tenda ada yang overload karena alasan tertentu. Salah satunya satu tenda diisi 3 orang, yaitu Doeja, Farhan, dan Keril :D Ambil positifnya saja, kebersamaan makin erat, karena benar-benar gaada space buat gerak. Tidur lelap karena kelelahan, dan siapin fisik untuk esok hari.


JUMAT 18 APRIL 2014
Ya ini hari Anniversary kedua bersamanya, Puput Sopyan. Doi tidur lelap, yasudah dibisikin saja selamat enip 2tahun. Dibisikin gaib gitu malah muntah, iya muntah gitu saja dalam tenda. Saya dan Deden panik (karena kami yang mengapitnya), lap sini lap sana mengamankan barang dari lahar yang keluar dari mulut doi, tetap saja yang lain tidur nyenyak. Terhitung 5x muntah, 2x yang bisa terselamatkan, 3x mengalir didalam tenda. Tak cukup muntah, ngompol pula ini orang. Geser taro pojok biar ga ngerepotin, dah aman dah.

Pukul 4 pagi beberapa bangun untuk ngemie, ngobrol dan gabisa tidur lagi aja. Jam 6 total anak-anak bangun semua, saat mereka masak, saya malah tidur hahaha. Sarden dan liwetan jadi menu pagi ini, packing, dan persiapan menuju gunung Gede siang ini. Saya memutuskan untuk menunggu tenda dan menemani Putsop yang fisiknya sudah diambang batas, berbesar hati merelakan mereka yang summit ke gunung Gede 2958mdpl pukul 10 siang itu.

Hanya bisa termenung, ngobrol berdua. Mau makan dan masak, eh logistik dibawa semua. Hanya beras, dan saos tiram yang tersisa, teganya kalian, dak. :'3 Isi air, opsih, keliling Kandang badak saja sendiri, doi masih terlelap dalam tidurnya. Seakan tak bersalah ini orang, gapercaya kalau dia muntah 5x bahkan ngompol, kuya.
Puncak gunung Gede

Pukul 3sore mereka baru pada kembali, keceriaan pun mulai kembali. Masak lagi penghabisan logistik, lalu hujan turun dengan derasnya. Tenda mulai bocor dan rembes karena single layer, baju pada basah bekas kemarin sore, cemilan habis, tersisa roti tawar yang diolesi saus tiram, seingat saya :D

Pukul 6 sore kami meninggalkan Pos Kandang Badak, perlahan saja karena fisik teman-teman juga yang mulai lelah. Tak begitu memperhatikan karena malam hari juga, cuma ya di Air Panas harus lebih hati-hati lagi. Lancar jaya, dengan berjuta bintang yang kami lihat di Rawa ganyangagung. Nah frustasinya di Telaga biru menuju Cibodas, seakan ga sampe-sampe. Tepat tengah malam kami tiba di basecamp Cibodas, alhamdulillah, terimakasih telah melancarkan perjalanan kami, Tuhan.


SABTU 19 APRIL 2014
Segera naik angkot ke depan gang, dan menunggu angkutan deh. Naik bis menuju Ciawi, tak ingat banyak, karena hanya tidur yang saya lakukan diperjalanan pulang. Semua berpisah di Tugu Kujang, sayonara. Kita pernah berjanji disini, akan mendaki gunung-gunung Jawa Barat lainnya, bersama.

Pahit manis ekspedisi ke gunung yang sebenarnya, berjalan lancar. Meski belum waktunya ke Gede, tapi kami (saya dan Putsop) tetap bersyukur bisa pulang dengan selamat. Disini kami tahu sifat dan watak teman masing-masing, pembelajaran berharga bagi saya. Terimakasih mang Wawang, telah jadi pembina yang sangat baik. Terakhir, terimakasih Tuhan dan alam, mengizinkan kami bercengkrama denganMu.

Inisiatif yang minim, keluhan yang banyak dilontarkan. Fisik dan mental yang masih terbilang lemah, menjadi catatan yang bisa kita pelajari lagi. Lembah kasih Mandalawangi, puncak gunung Gede, dan alun-alun SuryaKencana menjadi PR bagi saya.

Sekian🤘


INFORMASI JALUR:
Cibodas 1350  - Telaga Biru 1580 1jam
Telaga Biru - Rawa Ganyonggong 1620 1/2jam
Rawa Ganyonggong - Panyangcangan 1640 1/2jam
Panyangcangan - Air Panas 2150 3jam
Air Panas - Kandang Batu 2190 1/4jam
Kandang Batu - Air terjun Pancaweuleuh 2210 1/4jam
Pancaweuleuh - Kandang Badak 2400 1jam
Kandang Badak - Puncak Pangrango 3019 3-4jam
Total 10KM dari Cibodas menuju Puncak Pangrango
Memakai data 2014, sumber dari Viewranger


TRANSPORTASI:
Dari Bogor, bisa menggunakan angkutan bis atau colt mini. Dengan ongkos 20-25rb, lalu turun di pertigaan Cibodas.
Dari Cibodas, menggunakan angkot maupun ojek menuju basecamp TNGGP Cibodas, 5-20rb.

Semoga bermanfaat. ✌️