Tampilkan postingan dengan label Pendakian Gunung Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendakian Gunung Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG SALAK VIA CIDAHU

SALAK 1 H+1

7-8 JULI 2016


Puncak Manik puncak 1 puncak tertinggi gunung Salak

Ya, terdengar cukup gila. Pendakian ini dilakukan saat H+1 Idul Fitri 1427H, saat orang-orang sedang berkumpul dengan keluarga mereka. Gunung pun termasuk keluarga bagiku, makanya langsung ku tengok XD Inipun menjelma seakan budaya bagiku, mendaki gunung Salak H+1 yang terus berlanjut di tahun 2017, 2018, dan 2019.

Gunung Salak terletak di perbatasan Bogor - Sukabumi, dengan banyak puncak diatasnya. Konon sih ada 12 puncak, namun yang diakui secara resmi hanya 3. Yakni Puncak 1 / Puncak Manik 2211, Puncak 2 / Puncak Prabu 2180, dan Puncak Sumbul 1926 mdpl. Jalur Cidahu adalah salah satu jalur Legal yang disediakan TNGHS ( Taman Nasional Gunung Halimun Salak), dan satu lagi yakni jalur Pasir Reungit di Gunung Bunder, Kabupaten Bogor.


KAMIS 7 JULI 2016 
Alarm berbunyi pukul 00.45 pagi, mata masih terasa berat sekali. Bergegas mandi, dan makan di dini hari ini. Ku langsung berangkat menuju tempat meeting point, di dekat SMA Rimba. Bertemu dengan Rizqi Fadillah/iki remaja gila 16 tahun yang ingin mendaki bersamaku.

02.30 kami motoran menuju Cidahu, Sukabumi. Melalui rute umum, yakni Tugu Kujang - Tajur - Ciawi - jl.raya Bogor - Sukabumi. Jalanan cukup lengang di dini hari ini, dan mampir ke salah satu minimarket tuk beli konsumsi. 35 KM dari SMA Rimba ke pertigaan Cidahu, dan 9,5 KM dari Pertigaan ke Basecamp Cidahu. Sepanjang perjalanan, taburan bintang terlihat indah, yang menambah motivasi pendakian kita hari ini. Dari kita berdua, belum pernah ada yang mendaki lewat sini sebelumnya. Dan Google Maps membawa kita tiba di basecamp Gunung Salak via Cidahu pukul 4 pagi.

Basecamp Cidahu terletak di Barat Daya gunung Salak, berketinggian +-900mdpl. Kita melanjutkan tidur, lumayan meski beberapa menit. SIMAKSI dibuka, kita langsung mendaftar. Untuk 2hari1malam dikenakan biaya 22,5rb, dan parkir motor menginap yakni 20rb. Sudah bisa dipastikan, kita berdua orang gila yang pertama mendaki Gunung Salak hari ini. Memulai pendakian tepat pukul 6 pagi, dengan jarak tempuh 9KM dan perbedaan elevasi 1300m menunggu dihadapan kita. Cukup panjang memang, untuk ukuran gunung yang hanya berketinggian 2211mdpl.

Pintu rimba gunung salak via cidahu
Gerbang ikonik Cidahu

Jalur awal yakni aspal lembab yang panjangnya 1,5KM, dengan kanan kiri itu hutan pinus dan camping ground yang luas. Pukul 06.30 kita berdua tiba di pertigaan, yakni jalur hutan atau aspal untuk menuju Bajuri. Kita memilih lewat hutan, karena ingin merasakan embun-embun pagi yang segar. Patok HM 0-25 akan menandai jarak kita selanjutnya, berwarna hijau bertuliskan putih. Makadam disusun cukup rapi, dan jalur terus menanjak. Hutannya juga rimbun, dan mendekati Bajuri ditandai dengan deru sungai yang cukup deras.

07.30 kita tiba di Simpang Bajuri 1380mdpl, yakni simpang antara Salak 1 dan jalur Pasir Reungit / arah Kawah Ratu. Banyak tanah datar nan luas, cukup untuk puluhan tenda. Dititik ini juga sumber air terakhir, yakni aliran sungai. Setelah mengisi air 3liter/orang, kita pun melanjutkan pendakian. Puncak Salak 1, berjarak 5KM dari sini. HM pun direset lagi dari 0, hingga 50 di HM terakhir. HM itu satuan Hektometer, yakni 1 HM berarti 100 meter.

Simpang bajuri gunung Salak via cidahu
5KM yang menyiksa

Sungai di Simpang bajuri gunung Salak via Cidahu
Sungai disimpang Bajuri

Vegetasi semakin rapat, jalur didominasi akar dan lumpur dalam. HM awal masih cukup landai, namun banyak jebakan lumpurnya. Salah melangkah, bisa sebetis kalau sudah terinjak hahaha. Sesekali menanjak akar, namun masih bisa diterima nalar. Hingga kita memutuskan ngebreak di HM 21 pukul 09.30, karena terpana oleh terlihatnya Puncak Sumbul 1926 dan Salak II 2180. Setelahnya, langsung disuguhi tanjakan akar 5 meter dengan kemiringan 70° keatas. Hadeuh, langkah mulai berat.

View di HM 25 jalur cidahu gunung Salak
Great view

Memasuki HM 25 seakan resmi memasuki punggungan tipis, dengan di kiri kita jurang menganga. Terlihat Kawah Ratu yang senantiasa mengepul, dan sepagi ini kabut sudah menyelimuti. Tiba di HM 33, di titik krusial ini. Jalur longsor, dan hanya berjembatan batang pohon dan sedikit gundukan tanah. Dikiri jurang sangat dalam, ada webbing tuk dijadikan pegangan. Nampak edelweis dibawah sana, cantik namun berbahaya. Juga sebenarnya ada jalur alternatif di kanan, namun nanti memutar dan dihadapkan tanjakan amat terjal. 

Kawah ratu dari jalur cidahu gunung salak
Kawah Ratu dari ketinggian

Longsor di jalur Cidahu gunung Salak
Kiri: Jurang lepas

Edelweis di jalur cidahu gunung salak
Cantik tapi membunuh

Selanjutnya hanya tanjakan-tanjakan akar yang cukup gila, yang membawa kami ke puncak Bayangan 1970 pukul 11.15. Terletak diantara HM 37-38, ditandai tanah datar cukup luas untuk beberapa tenda. Kita ngebreak disini, lurusin kaki. Nyemil-nyemil, mengumpulkan energi. Berdua, diketinggian. Tak bertemu pendaki, berteman sepi. Kita pun sedikit berbahagia, karena sebentar lagi tiba di puncak Gunung Salak.

Puncak Bayangan gunung Salak via cidahu
Puncak Bayangan

11.30 melanjutkan pendakian, dengan sisa tenaga namun semangat masih terjaga. Menuruni ke lembahan, langsung menanjak tajam. 7 meter keatas, berlumut pula. Katanya sih ini disebut tanjakan iblis, tuk menyaingi tanjakan Setan nya gunung Gede X'DD Ngeri deh kalau sudah hujan, sudah tak terbayangkan. HM awal setelah puncak bayangan, adalah HM-HM terberat dengan tanjakan tanpa ampun.

Lalu momen-momen setelah HM 45 itu mulai mengharukan, karena vegetasi mulai merenggang dan jalur sudah melandai. Memasuki area puncak, diketinggian 2211mdpl. Kita berdua tiba di puncak 1 gunung Salak pukul 12.30 siang, pun masih cerah dan sepi. 6,5 jam dari Cidahu, jarak tempuh 9 KM, dan perbedaan elevasi 1300.

Puncak Manik puncak satu puncak tertinggi 2211 mdpl  gunung Salak

Tak lama, muncul seseorang dari jalur Cimelati. Wah iya ini om Iwan Sunter, ku sadar karena melihat postingannya di group Facebook 'Pendaki Bogor' yang mengajak mendaki gunung Salak di H+1 juga. Halo om, salam kenal. Suatu kehormatan, bisa mendirikan berdampingan dengan beliau. Buka tenda di area yang tertutup, agar aman dari terpaan angin. Tenda nya single layer no brand yang sudah 10 tahun lebih ia pakai, dengan flysheet Avtech sponsoran 3x3. Berbanding kontras dengan tenda MM Milkyway ku yang baru, perdana membentang dipuncak Salak.


Sore hari lanjut berkeliling Puncak Manik, yang masih cerah dan sepi. Muncul 4 orang pendaki, yang mengaku sehabis buka jalur dari Tenjolaya. Wow, orang-orang gila semua ya yang naik H+1 ini hahaha. Lalu ngobrol ngalor ngidul dengan om Iwan, tentang sudut pandang petualangan dari sisi nya. Cerita tentang kisah-kisah masa lalunya, kisah puluhan kali mendaki gunung Salak ini, sudut pandangnya soal Willem Tasiam, juga kisahnya sepedahan keliling Kalimantan. Juga rencananya tahun depan beliau akan 'Lari Jakarta - Raung - Jakarta' ditemani kawannya anak PATAGA. Dan faktanya, rencananya berjalan mulus di tahun 2017 lalu.

Ohya beliau juga berangkat sejak kemarin dari Sunter, Jakarta. Menggunakan sepeda yang ia beri nama 'Coni', yang ia titipkan di Cicurug. Dan meskipun kita baru kenal, bahkan saya yang masih anak bawang di dunia pendakian. Ia tak sungkan tuk berbagi tentang Idealismenya, bahkan hal pribadi tentang kisah perceraiannya dimasa lalu.

Ba'da maghrib, suasana sudah hening. Kabut mulai turun, gerimis mulai membasahi. Ku sudah mulai terlelap, Iki dan om Iwan sudah sedaritadi dialam mimpi. Selamat malam, puncak Manik. 


JUMAT 8 JULI 2016
02.30 pagi ku terbangun, segar. Efek tidur dari sore, summit attack yang hanya belasan meter. Langit berjuta bintang, gemerlap lampu kota Bogor dam Sukabumi membentang indah. Berdiri 3 tenda pagi ini, dan ada beberapa orang didalam saung disisi makam. Dingin mulai terasa kembali, ku pun masuk ke sleepingbag lagi tuk menunggu pagi.

Pukul 5 pagi ku bangun sepenuhnya, sinar mentari perlahan muncul. Gede - Pangrango nampak jelas bersiluet, latar gradasi orens hitam, dengan kabut terhampar dibawahnya. Sunrise yang indah, dengan awan yang jarang-jarang dilangit. Menikmati tenangnya diawal bulan Syawal, dan sepi nya Salak 1 pagi ini.

View di puncak gunung salak

Membagi tugas, Iki packing dan saya masak mie. Lalu gantian sebaliknya, untuk mengefektifkan waktu. Packing selesai, perut kenyang, ayok pulang. Memutuskan tuk turun lebih pagi, karena mau mampir ke Kawah Ratu kalau sempet. Ah om Iwan pun turun melalui Cidahu, dan ingin bareng dengan kami, suatu kehormatan om. Terakhir, kita berfoto di plang tuk dokumentasi.

Salak 2 dari puncak 1 gunung Salak
Salak II yang masih menjadi misteri bagiku

Puncak Manik puncak 1 puncak tertinggi 2211 mdpl gunung Salak
Suatu kehormatan

Turun pukul 09.30, bertiga perlahan namun ritme cukup cepat. Patok HM pun kita tak begitu memperhatikan, karena memang fokus turun. Di Puncak bayangan  pukul 10 pagi, sudah bertemu rombongan disini. Gokilnya sih, saat ku dan iki berusaha sesafety mungkin. Yakni sepatu, celana panjang, dan lengan panjang. Beliau malah pakai celana sontog, kaos minion yang mencolok, dan sendal jepit dengan warna beda sebelah. Bahkan tenda dan matrasnya pun digantung begitu saja diranselnya. Pun di jalur berlumpur, ia sangat lihai tuk menghindarinya.

Kita bisa membeli gear-gear mahal sekalipun, namun jam terbang memang tak bisa kita beli.

Diatas target, kita bertiga tiba di Simpang Bajuri pukul 13.30 siang. 5KM turun dengan memakan waktu hanya 4 jam, cukup cepat. Kita berdua mengajaknya main dulu di Kawah Ratu, namun beliau ada janji ngopi sama kawannya ngopi di Cidahu. Kita berpamitan, dan beliau memberiku kenang-kenangan. Yakni coverbag 'Webbink' warna hijau tua berukuran 80liter, wah terimakasih banyak om πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ Dan coverbag tersebut selalu ku pakai kemana-mana, dan awet hingga sekarang.

Menuju Kawah Ratu, yang masih berjarak 2KM dari Bajuri. Berjalan kearah utara, hingga kita menemukan tanah lapang yang cukup luas. Seperti lapangan bola, ternyata ini namanya 'Helipad 1382mdpl'. Lalu lanjut melalui makadam lagi, cukup jauh juga ya ternyata, terlebih kita yang membawa ransel full.  Total 40menitan dari Bajuri, ditandai dengan kepulan asap yang mulai terlihat. Wow ternyata Kawah Ratu luas juga yaa. Baru dateng lalu disambut gerimis. Niatnya disini mau santai menikmati suasana, malah bergerak serba cepat bongkar flysheet 2x3 milikku.

Berkah sih, karena ada pengunjung lainnya juga yang ikut berteduh. Dan syukurlah gerimis tak berlangsung lama, kitapun segera turun tuk menikmati kawah lebih dekat. Terdapat 2 aliran sungai sulfatara, yang mengalir ke lembah-lembah lainnya. Tapi banyak yang mandi juga, apa gak gatel ya?? Pasir Reungit terletak masih 4KM dari sini, masih cukup jauh ternyata. Kita hanya bermain di Kawah Ratu dibagian selatan saja, karena kalau terus ke utara masih banyak spot indah seperti Kawah Mati, kawah Cikuluwung dan Sumbul view. Dan kita segera kembali ke Bajuri, karena waktu yang sudah mulai sore.

Helipad gunung Salak

Kawah ratu gunung Salak
Kawah Ratu yang menawan

Kawah ratu gunung Salak
Sungai sulfatara

Helipad, yang konon katanya dipakai utk evakuasi Sukhoi Superjet 1000

Pukul 15 sudah kembali di Bajuri, kitapun segera melanjutkan turun. Dari Javana Spa kita memilih jalur aspal, tuk mencari suasana baru. Melewati aspal yang masih baru, dengan jalur menurun, membuat dengkuk lemes sih. Menemukan danau yang cukup indah tuk transit, hayu lah sekalian foto-foto. Ala-ala Danau Taman Hidupnya Argopuro, atau Telaga Dewinya gunung Singgalang.

Danau Javana Spa
Sedeng seginimah

Menuruni aspal basah dan berliku, terus turun kearah Cidahu. Camping ground mulai ramai, memasuki liburan Idulfitri. Dan dengan sisa-sisa tenaga, kita berhasil mencapai pos Cidahu pukul 5 sore. Sungguh hari yang melelahkan, sangat-sangat melelahkan.

Beberapa menit kemudian, kita sudah memulai perjalanan pulang ke Bogor. Meninggalkan Salak 1 yang memberi banyak pelajaran, tak menyangka bisa bertemu Iwan Sunter yang memberikan inspirasi tak terlupakan. Jalur pendakian yang memaksa kami pantang menyerah, dan Kawah Ratu yang selalu mengepul indah. Total jarak mendaki di 2 hari ini yakni +-25KM, menanjak, memanjat, menuruni, menyusuri.

Pulang via Jalur Alternatif Cigombong-Batutulis, yakni melalui jl.Cisalada - jl.KH Halimi - Jl.Raya Cihideung - jl.Soemanta Direja. Cukup lancar dan efektif, hingga ku tiba dirumah Iki pukul 8 malam. Mampir tuk bebersih, ngebaso, dan kirim foto. Dan ku pamit pukul 9 malam.

Selesai.


NOTES:
- Siapkan dan pastikan fisik yang prima, benar-benar prima karena sangat menguras tenaga
- Pastikan sepatu sehat, dan bergaiter disarankan
- Biaya SIMAKSI 2D1N 22.500 dan parkir 20.000/motor

CATATAN WAKTU:
7/7/16
02.30 Bogor - Cidahu
04.00 Cidahu 900
06.00 Start Trekking 
06.30 Pintu Rimba
07.30 Simpang Bajuri 1380
11.15 Puncak Bayangan HM 37-38 1970 
12.30 Puncak Manik Salak 1 2211

8/7/16
09.30 Perjalanan turun
10.00 Puncak Bayangan
13.30 Simpang Bajuri
14.10 Kawah Ratu
15.00 Simpang Bajuri
17.00 Cidahu
20.00 Ciomas
21.00 Rumah

Jika kita tak berpikir Gila, maka kita ga bakalan jadi Orang Gila.
- Iwan Sunter

Oh ya, ini juga bisa dijadikam referensi. Kisahku yang mendaki gunung Salak puncak 1 / puncak Manik, melalui jalur Cimelati : https://novialanis.blogspot.com/2020/03/menggapai-puncak-i-gunung-salak-puncak.html?m=1

Sabtu, 04 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG CIREMAI VIA LINGGARJATI

MENDAKI 15 JAM DEMI MENGGAPAI CIREMAI 3078

23-25 MARET 2016


Kawah gunung Ciremai

Bahkan tak sampai sebulan, sudah kembali mendaki. Karena ada celah tanggal merah, yang berurutan dengan libur off. Pendakian ini bahkan baru direncanakan H-3, dengan penuh perjudian.

Ciremai memiliki 4 jalur resmi, yakni Linggarjati, Linggasana, Palutungan dari Kuningan. Dan Apuy, dari Majalengka. Kita memilih mendaki via Linggarjati, yang konon katanya jalur terberat Jawa Barat.


RABU 23 MARET 2016
Keputusan bahwa tanggal 25 Maret diliburkan (tanggal merah, wafat Isa Al Masih) baru turun malam tadi, yang artinya jadi mendaki. Total 3 hari off, yakni hari ini, esok, dan tanggal 25. Baru pulang kerja pukul 8 pagi, tiba dirumah langsung prepare dan packing. Tidur pukul 11, dan pukul 12 sudah kembali bangun. Makan siang, mandi, lalu berangkat pukul 13.

Setibanya di Meeting Point, yakni terminal Baranang Siang. Kali ini ku mendaki berdua, bersama sohib ditempat kerja yakni Abuzar Gifari. Keliling - keliling tuk mencari bus arah Kuningan, ketemu lah bus nya yakni Luragung : Sahara Pratama. Langsung naik, karena bus mau berangkat. Bus ekonomi, dengan kondisi 1/2 penuh. Dengan ongkos 70rb/orang, bus berangkat pukul 14.30.
Bus Luragung baranang siang

Melanjutkan tidur yang tertunda, ditengah bising dan panasnya bus. Memasuki Cikampek yang padat, ini bus malah atraksi -_- Lewat bahu jalan agar lepas dari macet, dan mepet truk dengan jarak 1 meter dengan bumper belakang. Alamat tidur tak nyenyak, berganti doa-doa yang dibacakan dalam hati. Melintasi Cipali dengan ngebut bukan kepalang, namun tak apa lah toh lengang ini. Ngobrol dengan keneknya, minta diturunkan di Linggarjati. Eh dia juga gatau, alhasil kelewat deh 5KM an. Mau tak mau turun, dan kembali naik Luragung lagi ke gang Linggarjatinya. 

Tepat pukul 19 kita tiba, dan mampir ke minimarket tuk beli konsumsi pendakian esok.
Kita berdua lanjut ngojek, 15rb untuk jarak 3,5KM. Tak ada gapura khusus, atau jalan naik turun khas kaki gunung. Tiba di Basecamp Linggarjati, sepi. Hanya ada para ranger yang sedang main kartu, dan kebetulan ku kenal bang Jamers relasi dari JTI. Charge HP,  istirahatkan badan. Tak ada dingin-dinginnya ini basecamp, dan saat di cek elevasinya hanya 650mdpl. Wew. Ciremai berketinggian 3078mdpl, dan basecamp hanya 650mdpl. 3078-650=2428 atau 2450mdpl, gap elevasi yang akan kita daki esok. Cukup gila memang, ibaratkan mendaki gunung Guntur dari titik 0mdpl saja. Ditambah tak adanya sumber air, tak heran Ciremai via Linggarjati dijuluki jalur terberat se Jawa Barat.


KAMIS 24 MARET 2016
Bangun pukul 3 pagi, bergegas mandi. Ada 2 rombongan lain di basecamp, dan pukul 5 pagi kita sudah ke Pendaftaran. Eh masih tutup ternyata, di ketok-ketok juga tak ada respon. Menunggu beberapa menit tetap nihil, balik lagi ajalah lanjut tidur. Masih penasaran, pukul 7 kita kembali ke Pendaftaran. Eh malah ditolak, minimal bertiga katanya, ciri khas aturan Tamam Nasional Jawa Barat hadeuh. Mana biaya SIMAKSI 50rb, dan mau takmau jadi musafir di rombongan orang. 

Kembali menunggu. Padahal kita sudah memperhitungkan, dengan jarak tempuh yang jauh, perbedaan elevasi yang gila, tak adanya sumber air, dan biaya SIMAKSI yang mahal. Ya kita berencana mendaki sepagi mungkin. Dan, gagal.

Setelah sarapan dan lobi-lobi izin numpang SIMAKSI, kita kembali ke Pendaftaran pukul 08.30. Mengisi surat pernyataan, dan membayar SIMAKSI 50rb. SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sudah termasuk cemilan, cinderamata, dan sertifikat. Total sekarang ber8, yakni ku, Agi, Toecole, Yanto, Begin, Uze, Sule, dan mang Indra. Akhirnya, setelah drama-drama diawal, kita bisa start mendaki pukul 9 pagi.
Basecamp Linggarjati Kuningan gunung Ciremai

gunung Ciremai



Jalan aspal memanjang, melewati rumah dan perkebunan penduduk. Ciremai nampak dari kejauhan. Hah, gunungnya keliatan? Kita benar-benar mendaki dari kuku gunung, bukan kaki. Semakin menanjak, hingga kita tiba di Cibunar 800mdpl pukul 09.20. Pos 1 ini adalah sumber air terakhir, dan minimal perorang membawa 4,5liter.
Pos Cibunar gunung Ciremai via Linggarjati
Pos Cibunar, pintu rimba sekaligus mata air terakhir

Memasuki hutan pinus yang lembab, kemudian berganti ke ilalang yang berkulak kelok. Lebih keatas lagi masih ditemukan ladang penduduk, hingga akhirnya tiba di Pos 2 Leuweung Datar 1100 pukul 10.40. Terus mendaki, ah tak terasa sudah tiba di Pos 3 Kondang Amis 1225mdpl saja. Tanah datar luas disini, cukup untuk puluhan tenda.
7,2KM menjelang Puncak

Ohya posisi kita ini sedang mendaki lewat jalur baru, yang baru dibuka beberapa hari ini. Berpatokan tepat disisi jalur lama, yang terlihat mulai rusak karena terlalu sering terinjak dan terkena hujan. Pukul 11.30 tiba di Pos 4 Pangalap, cukup cepat untuk rombongan yang menerapkan metode trekking santai. Ngebreak nyemil dulu disini, dan mulai trekking lagi nanti tepat tengah hari.

Gila sih jalurnya nanjak terus. Sekalinya ada bonus, pasti didepan sudah ada tanjakan curam menunggu. Hingga pukul 12.40 kita tiba di Pos 5 Kuburan Kuda 1450mdpl, yoi 4 jam trekking baru sampai di elevasi rata-rata basecamp gunung normal XD Gerimis turun perlahan, bongkar Flysheet lanjut ngemie dulu sahaja. Suasana lembab dan turunnya kabut, membuat mager. Namun kita segera cepat sadar, target camp masih jauh diatas sana.
Pos kuburan kuda gunung Ciremai via Linggarjati

Pos kuburan kuda gunung Ciremai via Linggarjati

Pukul 14 kita melanjutkan perjalanan. Jalur semakin menanjak, didominasi akar-akaran. Pos 6 Pamerangan 1650mdpl pukul 14.45, terdapat tanah datar cukup luas disini. Pos 7 Tanjakan Bingbin 1725mdpl pukil 15.15, memasuki etape lebih terjal dengan Pos dengan nama-nama tanjakan kedepannya.
Jalur akar yang menanjak dominan

Seberat beban hidup

Pos 8 Tanjakan Seruni 1825mdpl, aih nanjak poll. Ngopi dulu lah, ngumpulin tenaga lagi kita.
Pos 9 Tanjakan Bapa Tere 2025mdpl, ini sih definisi dengkul ketemu kepala. Tinggi +-5m dengan kemiringan 80°, dengan pijakan akar dan bertumpu di webbing. Tanjakannya dahsyat dah. Terlebih yang membawa ransel full, dijamin gemeter tuh dengkul. Kita tiba disini saat maghrib, trabas terus trekkingnya.

Hingga kita dapet kabar, bahwa mang Toecole lemes dan minta ngebreak. Wajar sih, beliau bawa Tarebbi full dan daypack didepan. Sekalian bongkar Flysheet lagi, gerimis muncul kembali. Masak jengkol balado untuk energi malam ini, sebelum lanjut trekking ditengah gelap. Pukul 21 kita lanjut mendaki, dan 10 menit kemudian tiba di Pos 10 Batu Lingga 2200mdpl. Semangat, 900 meter lagi puncak hahahaha. 

Terus mendaki, vegetasi mulai merenggang. Pos 11 Sangga Buana 1 2500mdpl berhasil pukul kita capai pukul 22. Sesekali terdengar deru angin malam, dan malam yang cerah berjuta bintang. Pos 12 Sangga Buana 2 2650mdpl pukul 23. Dingin perlahan mulai menyelimuti, dan jalur berganti batuan terbuka dengan kemiringan 70°. Mendaki punggung terakhir, dengan sisa-sisa tenaga.


JUMAT 25 MARET 2016
00.15 akhirnya, rombongan tiba di pos terakhir yakni Pangasinan 2800mdpl. Kepalang gila, mau bablas ke puncak namun gaada tempat camp ideal. Kita buka tenda disini, single layer metal dengan doa-doa agar tak hujan hahaha. 

Memaksimalkan sisa waktu, dengan mengistirahatkan tubuh. Pukul 1 pagi kita baru terlelap tibra, karena subuh nanti sudah trekking lagi kita. 15jam total trekking hari ini, dengan rincian 10,5jam mendaki, 4 jam istirahat total, dan 5menit istirahat di tiap pos. Perbedaan elevasi 2150 meter, ditempa jalur-jalur gila Ciremai.

Selamat pagi Ciremai, kita sudah bangun pukul 04.30. 3,5jam tidur, semoga mode 'fast charging' di diri masing-masing berfungsi dengan baik hahaha. Pemandangan subuh yang sangat syahdu. Didepan terlihat gemerlap kota Kuningan dan Cirebon, juga terlihat garis pantai utara Jawa. Di kanan-kiri yakni punggung-punggung terakhir menjelang puncak, dan dibelakang kita yakni etape akhir pendakian menjelang Atap Jawa Barat. Pun langit juga sangat cerah. Diatas masih berjuta bintang, dan rembulan yang dikelilingin pelangi di sekitarnya.

Pukul 5 pagi kita mulai mendaki, jalur terus menanjak dan terbuka. Dan 30menit kemudian kita tiba di puncak Ciremai Linggarjati, menanti sinar jingga yang perlahan muncul dari timur sana. Slamet, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, bahkan Lawu yang kecil nampak jelas terlihat dari sini. Pukul 6 kita mulai melipir bibir puncak, searah jarum jam. Dan tiba di puncak utama Ciremai 3078mdpl pukul 6 pagi, rasanya melegakan sekali.
Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Gunung-gunung Jawa Tengah, tunggu aku... 

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Puncak Ciremai jalur Linggarjati 

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Melipir menuju 3078

Gunung-gunung Jawa Barat nampak jelas, seperti PAGUCI di Garut dan pegunungan Bandung. Sekitar 30 pendaki via Apuy maupun Palutungan yang berada di puncak pagi ini. Slogan di plangnya yakni : 'Bigger Stronger Better' seolah mewakili karakter Ciremai. Cuaca terbuka dan cerah, semoga bertahan hingga sore nanti. Dan foto-foto jangan lupa, juga dengan tim rombongan yang tabah sampai akhir ini hahahahaha.
Gunung-gunung Jawa Barat

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Tim tabah hingga akhir

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Dengan para sponsor XDD

Namun kita berdua izin pamit duluan, karena esok sudah kerja kembali dan mengejar waktu pulang. Duluan ya, terimakasih banyak. Yang tadinya hanya numpang simaksi, malah jadi saudara di pendakian ini.

Pukul 07.45 kita sudah melipir kawah, dan pukul 08.10 sudah tiba di puncakan Linggarjati. Menuruni menuju Pangasinan bekas terbakarnya Ciremai tahun lalu masih sangat terasa, dan tiba pukul 08.45. Packing hayu, karena perjalanan pulang ini sama panjangnya seperti kemarin.
09.15 start turun, perlahan karena jalur bebatuan dan takutnya rawan longsor. Sambil menikmati pemandangan, karena jalur yang masih terbuka. 09.40 di Sangga Buana 2, dan pukul 10 di Sangga Buana 1. Menerapkan 3 menit break disetiap pos, dan selalu menjaga ritme turun.
Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Puncak menuju Pangasinan

Pos Pangasinan gunung Ciremai via Linggarjati

Pangasinan menuju Sangga Buana

Mulai memasuki hutan lembab kembali, meski dengkul lemes namun harus tetap semangat hihi. 10.30 di Batu Lingga, dan 11 di Bapa Tere. Pelan-pelan menuruni tanjakan akar nan curam, juga kejam seperti Bapak Tiri. Baru ketemu pendaki yang naik di titik ini, wah kalian cepat juga yaaa?
11.50 di Tanjakan Seruni, bongkar sisa logistik makan siang disini. Ditempat datar dan cukup terbuka, menikmati Elang yang terbang tenang diatas langit kita. 12.10 di Tanjakan Bingbin dan 12.20 di Pamerangan. Mulai sering bertemu pendaki lain. Semangat yaaa semuanyaaa, rasakan apa yang kita rasakan kemarin huahahaha


Tanjakan Bapa Tere gunung Ciremai via Linggarjati

Tanjakan Bapa Tere gunung Ciremai via Linggarjati
Sekejam bapak tiriπŸ™ƒ

12.50 di Kuburan Kuda, ritme turun mulai dikebut. Namun kadang ketahan rombongan yang naik, dan seringnya macet ditanjakan. 13.40 di Kandang Amis, wah ramai sekali. Hayu atuh pada naik, ini baru awal dari pendakian sebenarnya loh. Atau mungkin mereka yang santay-santuy ini mendaki 3hari 2malam kali ya? Tapi persediaan air juga harus banyak? Lah biarin aja lah, urusan mereka juga sih hahaha.

Pukul 14 di Leuweung Datar, terus turun dan ilalang juga perkebunan warga menambah motivasi kita. Terdengar deru motor, yang menandakan sebentar lagi tiba. Saat melintasi hutan pinus, hati sudah berbunga-bunga rasanya. Dan pada akhirnya, kita tiba diperadaban yakni pos Cibunar pukul 14.30. 30menit lebih awal dari target, dengan total 5,5 jam menuruni Ciremai. Manajemen air pun tepat, dan kita segera minum sepuasnya disini.

PR terakhir, kita menuruni jalan aspal nan panjang menuju basecamp. Sungguh, jujur aja. Ini sendi yang menghubungkan betis dan paha, rasanya mau copot. Sesekali turun dengan cara mundur agar tak monoton, yang nyatanya sama aja. 
Ciremai sudah mulai tertutup kabut tebal, awan mendung perlahan turun. Setibanya di pos Linggarjati pukul 15, lapor SIMAKSI dan sampah yang kita bawa, dapet sertifikat deh kita.
Di basecamp kita langsung bergegas mandi, lalu makan sore. Ngojek turun ke jalan utama, dan baru dapet bus Luragung pulang itu pukul 17. 

Diperjalanan pulang, turun hujan dengan intensitas deras. Wah kebayang ya, nasib mereka yang mendaki Ciremai hari ini? Semoga persediaan airnya tercukupi oleh turunnya hujan, hehehe. Hingga kita berpisah, Agi turun di pintu tol Cibinong/Citeureup pukul 21. Ku turun di Baranangsiang, dan finally tiba dirumah pukul 22.

NOTES: Sakit badan dan pegal-pegal kaki baru hilang di H+3 setelah pendakian.

SIMAKSI: 50 ribu

TRANSPORTASI:
Bus Luragung 70rb - Bogor - Kuningan dan sebaliknya
Ojek Linggarjati 15rb

CATATAN WAKTU:
23/3/16
14.00 Terminal Baranang Siang
19.00 Linggarjati Kuningan
20.00 Basecamp Linggarjati Ciremai 650

24/3/16
09.00 Start mendaki
09.20 Cibunar 850 mata air terakhir
10.40 Leuweng Datar 1100
11.00 Kondang Amis 1225
11.30 Pangalap
12.30 Kuburan Kuda 1450
14.00 Pamerangan 1650
15.15 Tanjakan bingbin 1725
16.30 Tanjakan Seruni 1825
17.30 Tanjakam Bapa Tere 2025
21.10 Batu Lingga 2200
22.00 Sangga Buana 1 2500
23.00 Sangga Buana 2 2650

25/3/16
00.15 Pangasinan 2800
05.00 Summit attack
05.30 Puncak Ciremai Linggarjati
06.00 Puncak Ciremai 3078
07.45 Turun
08.45 Pangasinan
09.15 Start turun
14.30 Cibunar
15.00 Basecamp Linggarjati
16.30 Linggarjati 
17.00 Perjalanan bus pulang
21.30 Baranangsiang

KENANG-KENANGAN
Sertifikat gunung Ciremai via Linggarjati

Rabu, 01 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG GUNTUR VIA CITIIS

SOLO GUNTUR 2249

10-11 MARET 2016



Gunung guntur garut

Gunung Guntur terletak di utara Garut. Memiliki 3 jalur yang cukup umum, yakni Citiis (tenggara), Cikahuripan (selatan, tembus puncak dua), dan Cibeureum (barat daya, tembus puncak empat).
Peta gunung Guntur

Jeda cukup panjang dari pendakian gunung terakhir, yakni Papandayan di 2015. Maklum, awal-awal memasuki dunia Kerja hehe. Inipun mendaki dengan sedikit memaksakan, tetap berangkat meski tak berkawan. Libur normal hanya 2 hari, langsung berangkatkan! Ekspedisi menuntaskan jajaran PAGUCI ( Papandayan Guntur Cikuray). Perdana solo hiking, rasanya semangat sekali! 



KAMIS 10 MARET 2016
Pukul 1 pagi ku baru tiba dirumah, sepulang kerja sore. Langsung dipaksa terlelap, dan bangun pukul 4 pagi. Tidur hanya 3jam, namun `spirit of adventure` harus tetap terjaga. Pukul 5 pagi berangkat dianter Bokap ke Ciawi, tepat dan langsung dapet bus Karunia Bakti tujuan Garut. Perjalanan bus dimulai pukul 6 dengan ongkos 50rb, dan ku berusaha menyambung tidur.

Dijalan, ku merasa menemukan hal-hal baru. Yakni membuka obrolan dengan orang yang tak dikenal, membaur dengan mereka-mereka yang dengan sudut pandang berbeda. Hiburan dari pengamen, hingga menikmati sulap jalanan. Pukul 10 memasuki Padalarang, bus terus melaju ditengah teriknya kota. 13.30 tiba lah di SPBU Tanjung, pintu masuk pendakian via Citiis. Berada tepat di utara Garut, bahkan kita tak sampai memasuki kota Garutnya hehe.

Lanjut ngojek dengan ongkos 15rb, diantar ke basecamp pa RT Nandang yang sudah berketinggian 780mdpl kala itu. Diwajibkan mengisi formulir, lalu makan siang untuk energi. Start trekking pukul 14.30, bismillah perdana mendaki sendiri. Melewati pos hijau yang tutup, yang ternyata itu pos tuk bayar retribusi. Alhasil mendaki gratisan, huahahaha. Setelah melewati perkampungan warga, jalur berganti ke area penambang pasir.
Tidak tahu diri, bukannya bayar malah selfie

Terik seakan membakar kulit, ditambah banyaknya persimpangan dengan minim tanda yang cukup membingungkan. Namun didepan sana, terlihat curug Citiis yang nampak dari celah-celah hutan. Baru masuk rimba pukul 15 sore, dan jalur sudah jelas dan enak kedepannya. Menanjak normal, namun tetap sepi pendaki. Warung-warung pun rata-rata tutup, maklum bukan weekend.
Memasuki hutan

Pos 1 1100mdpl pukul 15.40 terdiri dari beberapa warung yang sepi. Jalur kedepannya terus menanjak, dan curug Citiis akan selalu tepat berada dikanan kita. Aliran sungai yang cukup deras nan jernih, rasanya ingin mandi sebentar baru lanjut mendaki. Jalur berbatu dan terjal konsisten dilalui, agar cepat menambah elevasi.
Pos 1 gunung Guntur via Citiis
Pos 1

Sungai citiis gunung Guntur
Aliran sungai Citiis sepanjang jalur

Ku tiba di Pos 2 1250mdpl pukul 16. Break, dan isi air agak turun ke lahan dibawah. Lanjut, jalur masih monoton berbatu dan menanjak. Langit masih cerah, dan vegetasi makin merenggang. Hingga keluar hutan, berganti ilalang. Jalan tanah nan memanjang akan membawa kita ke Pos 3. Oh ya selama pendakian, ku hanya bertemu 1 orang asal Bandung yang sedang turun. Sisanya, sepi nan anyeb hahaha.
Pos 2 gunung Guntur via Citiis

Pos 2 gunung Guntur via Citiis
Dengkul lemes

Menjelang Pos 3

Pos 3 Pamulangan 1390mdpl pukul 16.30, syukurlah tak kesorean. Laporan di Pos 3 tuk verivikasi dan menahan KTP sebagai jaminan, dan ku baru dikasih tau kalau tadi di pos Hijau itu bayarnya. Mau bayar disini tapi mereka tak mau menerima, yasudah murni rezeki saya berarti haha. Uang retribusi dipakai tuk beli beberapa emblem, stiker, dan gantungan kunci saja, biar win-win solution. Pos 3 adalah titik terakhir tuk mendirikan tenda, karena berbahaya ngecamp di Puncak yang terbuka dan rawan badai.
Pos 3 gunung Guntur via Citiis

Pos volunteer gunung Guntur
Pos Volunteer

Sejenak ku berdiam diatas batu besar, memandangi langit sore Garut dari ketinggian. Memandangi kebelakang, ada Guntur yang siap didaki esok pagi. Merenung. Langkah kaki sendiri, bisa sampai di titik ini. Hingga ku ditegur oleh dua orang senior asal Jakarta, lalu ngobrol dan membaur. Ditawari ngecamp bareng, hayu lah. Karena ku juga sedikit ngeri, Guntur sedang rawan-rawannya maling dan babi kala itu.

Menjelang malam, tenda Rei single layer ku sudah berdiri kokoh. Tepat disisi aliran sungai Citiis, yang menderu deras. Bergabung dengan rombongan Jakarta dan Bekasi, dan saling berbagi tugas. Mereka yang masak, saya yang menghabiskan. Hahahaha. Logistik berat dikumpulkan bersama, dan makan bareng malam ini kitaaa. Hingga pukul 20 kita sudah masuk tenda lagi, dengan sampah digantung diatas pohon. Hape, dompet, dan narang berharga lainnya ku masukkan ke kantong celana. Lalu masuk sleepingbag, berdoa agar malam ini aman sentosa.


JUMAT 11 MARET 2016
Alarm berdering pukul 01.45, summit waaa. Packing dalam gelap, seluruh barang-barang. Termasuk tenda dan semuanya. Lalu menitipkan ransel di pos Volunteer, dan mulai start mendaki lagi pukul 03 pagi. Kita summit berenam, yakni Gondrong, Ambar, Andi, Adit, Ian, dan saya. Diatas sana sudah ada headlamp yang menyala, tanda sudah ada yang terlebih dahulu summit.

Jalur awal yakni masih tanah dan ilalang, terbuka dan dingin cukup menusuk tubuh. Terlihat beberapa cemara yang jaraknya renggang-renggang, cocok tuk jadi patokan ngebreak. Berubah menjadi kerikil, dan kita dituntut harus pintar mementukan pijakan. Rasanya naik 1 langkah, turun 1/2 langkah. Bawa diri aja susah, apalagi yang nekat camp di puncak yaa. Melihat kebelakang, gemerlap lampu kota Garut dan mereka yang baru memulai summit menjadi motivasi tersendiri. Setelah melalui fase berat kemiringan 45-70°, akhirnya kami berhasil mencapai puncak 1 Gunung Guntur pukul 04.45 pagi.

Break sesaat di puncak 1, langit sedikit berawan dan tadi sempat berkabut. Mendaki puncak 2, dengan mendaki melipir kanan. Berselang 15 menit dari puncak 1, terlihat terjal nan jauh padahalmah dekat. Masih gelap karena masih subuh, menunggu mentari muncul diufuk timur. Puncak 2 ini yakni puncak umum di Guntur, karena ada tugu GPS dan sebuah 'in memoriam' disini. Mereka memutuskan menunggu disini, dan ku dan Andi melanjutkan perjalanan ke puncak 4.

Menyeberang lembah lalu mendaki, tiba di tanah datar nan nanggung ini disebut Puncak 3. Lalu 5 menit keatas, alhamdulillah kita tiba di Puncak 4, titik tertinggi gunung Guntur Garut 2249mdpl tepat pukul 6 pagi. Sepi, sunyi, dan berkabut tipis pagi ini. Tak ada tugu atau trianggulasi, hanya ada plakat yang sudah kusam penanda puncak. Kita tak berlama-lama disini, takutnya kawan-kawan sudah menunggu kita.
Puncak 4 gunung Guntur
4 hikers in top 4

Puncak 4 gunung Guntur

Puncak 4 gunung Guntur
Menyongsong matahari

Puncak 4 gunung Guntur
Levitate

Puncak gunung Guntur
Puncak 2 dari puncak 4

Kembali ke Puncak 2, tak terlalu ramai pendaki yang summit pagi ini. Kita semua pun sempat berfoto, dan cukup dalam 1 frame foto hahaha. Kabut mulai terpecah saat sinar mentari datang. Lautan awan mulai terlihat dari kejauhan. Bergantian berfoto di tugu, anti rebutan rebutan club pagi ini. Faktanya di pendakian gunung Guntur ini, hampir semua jaringan seluler mendapat sinyal.
Puncak 2 gunung Guntur
Guntur ini milik kita~

Puncak 2 gunung Guntur
Team

Puncak 2 gunung Guntur
Tugu GPS Puncak 2

Puncak 2 gunung Guntur
Puncak 3 & 4

07.30 kita mulai perjalanan turun. Nah kalau turun tuh kebalikan dari naik, maksudnya melangkah 1x jaraknya jadi 2x. Terasa cepat, namun juga pengaruh di sepatu cepat rusak hahaha. Ngebreak di Puncak 1, dan ku menyempatkan tuk melipir melihat kawah Guntur dikanan. Kawahnya cukup dalam, bahkan dasarnya tak terlihat. Lanjut turun,  dan melalui jalur yang berbeda dengan jalur naik. Masuk ke sebuah cerukan yang berisi full pasir, melangkah 1x jaraknya bisa 3x langkah.
Puncak 1 gunung Guntur
Jalur menuju puncak 2 dari puncak 1

Kawah gunung Guntur
Kawah nan dalam

Rasa-rasa turun dari Mahameru, bayanganku kala itu. Bedanya kalau di Guntur itu didominasi kerikil, kalau Mahameru itu pasir halus. Sempat istirahat karena turun kabut, takut kebablasan sosorodotan hingga basecamp hahaha. Turun terus, kerikil berganti tanah itu pertanda sebentar lagi sampe Pos 3. Hingga kita tiba di Pos 3 / Pos Volunteer pukul 9 pagi. Break sesaat, amblil ransel sekalian dengan KTP.  Dan ku izin pamit turun duluan, memisahkan diri dari rombongan.
Cerukan


Kartu verivikasi

Turun sendiri, menuruni bebatuan yang terjal cukup terasa di dengkul hihi. 09.30 di Pos 2, sepagi ini udah bertemu pendaki yang naik. Dan diperjalanan kedepannya, banyak berpapasan dengan pendaki lain, menjelang weekend. 09.45 di Pos 1, warung-warung yang kemarin tutup pun sudah ramai kembali. Langkah terasa cepat, menjaga ritme diri sendiri. Pukul 10 pagi ku sudah keluar hutan, bersyukur di penambangan pasir sebelum terik.

Langkah gontai membawaku ke perkampungan warga, dan tiba di rumah pak RT pukul 10.30. Ditanya-tanya soal pengalaman mendaki seorang diri, dan beliau pun bersyukur tak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Pergi mandi, lalu makan siang. 
Memesan ojek tuk ke gang depan SPBU, ongkosnya masih sama 15rb. Menunggu bus, dan sudah diperjalanan pulang saat tepat tengah hari.

Uniknya ku menaiki bus yang sama dengan kemarin, ditempat duduk yang sama, juga dengan ongkos yang sama haha. Hanya tidur, yang ku bisa lakukan untuk membunuh waktu. Tak terlalu ramai manusia yang didalam bus sore ini, membuat leluasa tibra dan tidak berisik. Pukul 16 di Cianjur, terbangun karena hujan yang cukup deras. Hingga penumpang terakhir turun di Cipanas, dan menyisakan ku sendiri di perjalanan arah Bogor. Hanya sopir, kernet, dan ku yang duduk di paling belakang. Terjebak macet di daerah Puncak, wayahna memilih transportasi non tol. Karena macet itu sesuatu yang diluar kendali kita, daripada bete tidak jelas, ku pun memilih menikmati keadaan dan mendengarkan khusyuk ceramahnya Jujun Junaedi dari audio bus.

19.30 bus tiba di Ciawi, alhamdulillah bisa kembali ke Bogor. Bokap sudah menunggu, dan tiba dirumah dengan selamat. Repacking, lalu tidur. Karena esok pagi, sudah bekerja lagi.


SARAN-SARAN
- Jangan solo hiking bila ingin dilihat hebat, resikonya sungguh tak sepadan
-Jangan bawa air terlalu banyak, cukup hanya trekking saja untuk meringankan beban
- Sampah digantung, daripada diacak-acak omen/babi
- Barang berharga disimpan sangat rapi, kalau bisa bawa tidur di sleepingbag
- Wajib gaiter
- Pastikan sepatu dalam keadaan terbaik

Jika kamu ingin berjalan lebih jauh, berjalan lah bersama orang lain. Namun jika kamu ingin berjalan lebih cepat, maka berjalanlah sendirian.

BIAYA SIMAKSI: RP.12.500

AKSES TRANSPORTASI:
- Bus Karunia Bakti dari Ciawi - SPBU Tanjung 50rb
- Ojek SPBU Tanjung - Basecamp 15rb

CATATAN WAKTU:
10/3/2016 05.00 : Menuju Ciawi
06.00 : Ciawi
13.30 : SPBU Tanjung Garut
14.00 : Basecamp Guntur
14.30 : Start trekking
15.00 : Masuk hutan
15.40 : Pos 1 1100mdpl 
16.00 : Pos 2 1250mdpl
16.30 : Pos 3 Pamulangan 1390mdpl

11/3/2016
01.45 : Bangun, packing
03.00 : Summit 
04.45 : Puncak 1
05.15 : Puncak 2
06.00 : Puncak 4 gunung Guntur 2249mdpl
06.30 : Kembali ke Puncak 2
07.30 : Turun
09.00 : Pos 3
09.30 : Pos 2
09.45 : Pos 1
10.00 : Keluar hutan
10.30 : Basecamp Guntur
11.00 : Ojek ke SPBU Tanjung
12.00 : Perjalanan pulang
19.30 : Ciawi
20.30 : Rumah