Jumat, 10 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA BAMBANGAN

EKSPLORASI PUNCAK SLAMET 3428MDPL

22-24 Mei 2016



EKSPEDISI SEVEN SUMMIT PULAU JAWA: BAGIAN I

Gunung Slamet, terletak diantara 5 Kabupaten yakni Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, di provinsi Jawa Tengah. Dan mitosnya, bila Gunung Slamet erupsi hebat bisa menyebabkan Pulau Jawa terbelah. Terdapat banyak jalur untuk mendaki gunung Slamet, beberapa diantaranya yakni Bambangan dari Purbalingga, Dipajaya dari Pemalang, Dawuhan dari Brebes, Guci dari Tegal, Baturaden dari Banyumas, Sigendong dari Bumijaya, dan Kaligua dari Brebes.

Gunung Slamet bagiku sangat spesial, yakni salah satu Gunung klasik di pulau Jawa. Tertinggi kedua, dan saat ini, ku berkesempatan mendakinya sendiri. Hanya ada ku, dan Gunung Slamet.

Puncak utara Kasuser gunung Slamet

Ah, lagi-lagi ku beruntung. Mendapati tanggal merah yang berurutan dengan libur off lagi, yang ditotal menjadi 3 hari. Menunggu hingga H-3 tanggal merah untuk surat keputusan libur/lemburnya, namun persiapan mental sudah dari sejauh-jauhnya hari. πŸ’ͺ


MINGGU 22 MEI 2016
Tiket bus berhasil ku amankan kemarin sepulang kerja, sekarang sudah tinggal action saja.  Yakni pulang kerja pukul 8 pagi, lanjut mampir ke Minimarket tuk berbelanja. Tiba dirumah, lalu tidur singkat. Hingga alarm berbunyi pukul 13.30, lanjut packing. Ransel Avtech Storm, dan tenda Rei kapasitas 2 orang dan single layer masih menjadi andalan.

Berangkat pukul 16, menuju pintu tol Cibinong/Citeureup. Dan tiba tepat waktu, saat bus baru muncul dan ngetem di terminal Bayangan ini. Pahala Kencana relasi Bogor-Bobotsari yang hanya terisi 1/2nya, mulai berangkat pukul 17.20 sore. Dapet harga 100rb sudah include makan, ambil duduk paling belakang lalu kita melanjutkan tidur kembali.


SENIN 23 MEI 2016
Malam berlangsung cepat, hingga ku sadari pukul 01.30 pagi posisi sudah berada di barat gunung Slamet. Tidur merem melek, karena takut kebablasan. Ditambah saat bertanya ke kondektur, ia tak tahu pertigaan Serayu Larangan pula. Syukurnya ada penumpang lain yang turun ditujuan yang sama denganku, kita pun turun dari bus berbarengan.

03.45 pagi di gang Serayu Larangan, sendiri. Ditawari ojek, namun ku menolak halus karena menunggu rombongan lain tuk sewa mobil. Namun lama sekali, hingga akhirnya ku menyerah dan tetap ngojek dengan ongkos 50rb. Pun jangan salah, ongkos ojek yang lumayan ini berbanding lurus dengan jarak dan tingkat kenaikan elevasi. Yakni menempuh jarak +-20KM, dengan perbedaan Elevasi Serayu 160mdpl ke basecamp Bambangan 1500mdpl. Wow.

Setibanya di Basecamp, ku langsung mengurus Simaksi. Diperbolehkan mendaki sendiri, dengan harga tiket 5rb dengan jaminan KTP. Lanjut mandi lalu sarapan pagi, dan memandang gunung Slamet yang perlahan tertutup kabut. Berada di kaki gunung tertinggi Jawa Tengah, bisa kah ku mendaki nya seorang diri? Tanya ku pada hati.

Basecamp Bambangan gunung Slamet

Pukul 8 pagi ku mulai trekking, diawali bersama 2 orang asal Palembang yang asyik. Melewati ladang penduduk, yang ditanami kol, kentang, daun bawang, dsb. Hingga belum 1/2 perjalanan ku izin berpisah sendiri, mengikuti ritme pribadi. Melintasi warung-warung yang kosong, hingga vegetasi berganti ke cemara yang menanjak. Berteman sepi, dan jalur membawaku hingga ke Pos 1 Pondok Gembirung 1937mdpl pukul 09.15.

Pos 1 gunung Slamet via Bambangan

Melanjutkan pendakian, memasuki rimba nya Slamet. Tanah lembab nan terus menanjak, keringat mulai bercucuran. Jarak yang cukup jauh, dan tak bertemu siapa-siapa. Dan pukul 10.15 ku tiba di Pos 2 Pondok Walang 2256 mdpl.
Istirahat cukup lama, dan kabut mulai turun. Perlahan gerimis, membuatku terjebak disini, seorang diri. 1/2jam kemudian baru kembali mendaki, terus naik. 1/3 perjalanan yakni bertemu simpang, arah Dipajaya. Hingga tiba pukul 11.30 di Pos 3 Pondok Cemara 2510.

Baru bertemu kehidupan disini, yakni pendaki asal Jogja yang baru turun. Jalur tikus, yakni celah tanah selebar +-50cm mulai sering ku lalui. Juga ku tak benar-benar sendiri, karena selalu ditemani Jalak Slamet sedari Pos 2 tadi. Pukul 12.10 di Pos 4 Pondok Samarantu 2688mdpl.
Kawan sependakian

Sempiiit

Pos 4 Samarantu gunung Slamet via Bambangan

Sebelumnya ku memang sudah baca-baca, kisah - kisah miring di pos ini. Karena posisi sendiri dan berkabut, ku tak beristirahat lama. Bertemu beberapa pendaki yang baru turun, dan vegetasi yang mulai merenggang. Dan pukul 12.50 ku tiba di Pos 5 Samyang Rangkah 2792mdpl.

Pos 5 ini ada bangunan semi permanen, yang konon katanya bekas open SAR Mahasiswa MAPAGAMA 2001 yang kisahnya sangat melegenda. Terdapat sumber air musiman juga, disebelah kiri dan turun cukup terjal. Ohya lebih baik konfirmasi dulu ke orang basecamp tentang mata air ini, karena lumayan bisa mengurangi beban dengan membawa air sedikit. Langkah berat, karena belum makan siang. Membawa ku tiba di Pos 6 Samyang Katebonan pukul 13.30. Dengan keadaan tanah datar cukup lebar, tanpa bangunan/shelter.


Kabut tebal, dengan dominasi vegetasi terbuka. Dengan hutan-hutan kering sehabis terbakar, dan diakhir melintasi jalur tikus yang cukup panjang. Sayup-sayup suara pendaki memecah keheningan, dan lu bersyukur bisa melewati etape menyeramkan ini. Akhirnya, pukul 14.15 ku sampai di Pos 7 Samyang Kendit 3040mdpl. Ada shelter seperti pos 5, yang diisi pendaki yang sedang sibuk packing. Pos 7 yakni tempat camp terakhir yang direkomendasikan, karena kedepannya sudah sangat terbuka dan minim tanah datar.

Pos 7 gunung Slamet via Bambangan
Pos 7 yang hening dan sepi

Tiba di akhir pendakian hari pertama yang cukup berat, dan sedikit mencekam. Total waktu pendakian yakni 6jam 15menit, dengan perbedaan elevasi 1540m. Jauh berbeda dengan solo hiking ke Guntur 2 bulan lalu, versi ini bahkan 3x lipatnya hahaha. Namun kesenangan menemukan kehidupan, tak berlangsung lama. Mereka turun semua, saat tak lama ku tiba. Oalah, sendiri diatas ketinggian +3000.

Sepi, sunyi. Setelah buka tenda didalam shelter, dengan mempertimbangkan tendaku yang single layer, cuaca yang berkabut tebal, dan minimnya pendaki hari ini. Semoga mereka yang ngecamp disini nanti, tak ada yang keberatan hihi. Masak-masak seadanya, lalu makan sambil duduk di pintu Pos 7. Serasa memiliki rumah sendiri disini, hanya ada aku, dan gunung Slamet.

Disini, di ketinggian ini, ku menemukan ketenangan yang sejati. Rasanya bisa berbicara kepada diri sendiri, dalam artian lebih dalam maksudku. Tapi, ah, gimana ya. Susah menjelaskan dengan kata-kata, kamu harus merasakannya, dan menemukan kedamaian itu sendiri kalau mau mencoba.


Menjelang maghrib, ku baru bertemu pendaki yang mencapai pos 7 ini. Dengan kabut tebal sepanjang perjalanan, dan dihadiahi senja yang cerah dipenghujung hari. Mentari terbenam di barat sana, berganti purnama yang indah, lengkap dengan berjuta bintangnya. Gemerlap malam Purbalingga, ku menontonnya dengan syahdu dipintu Pos 7. Hingga merasakan malam yang semakin dingin, dan ku terlelap di hangatnya sleepingbag lebih awal.

Efek mendaki seorang diri, selfi terus hihi


SELASA 24 MEI 2016
Tidur pukul 20, dan pukul 2 pagi ku sudah bangun kembali. Memasak sarapan tuk energi, lalu membawa barang-barang seperlunya. Ku terlalu bersemangat, tuk summit seorang diri pukul 3 pagi. Pos 8 Samyang Jampang 3092mdpl dicapai dalam 15 menit, juga 15 menit kemudian ku tiba di Plawangan 3172mdpl. Ku baru sadar, kayanya kepagian deh.

Duduk dulu, menatap langit yang cerah. Purnama dan bintang, terlihat masih malam. Didepanku puncak tertinggi Jawa tengah, dibelakangku gemerlap Purbalingga. Ku berada di 'Point Of No Return', point dimana jika kamu mendaki keatas, dan berkabut, akan sulit kembali. Mengumpulkan mental, dengan berdoa semoga diberi cerah pagi ini. Ku melanjutkan mendaki, sendiri.

Angin berhembus kencang, bebatuan kokoh ku pijak, dan tanpa vegetasi. Menanjak 45°, ah ritme terasa cepat sekali. Sesekali melihat kebawah, belum ada sinar atau senter yang bergerak. Tak menemui begitu kesulitan dalam summit, hanya sedikit bimbang di mental saja. Hingga pukul 4 pagi, ku berada di titik yang sudah tidak ada tanjakan lagi.

Didepan yakni kaldera Slamet yang sangat besar, dan ku berjalan menyusuri kearah kanan. Hingga akhirnya, ku tiba di puncak Slamet / Puncak Suroni 3428mdpl pukul 04.15 pagi. Tak ku sadari, ku reflek sujud sukur. Plang Wayang ciri khas puncak Slamet, yang ku pegang sangat dingin. Sinar headlamp baru terlihat, sedangkan ku sudah tiba.

Puncak gunung Slamet puncak Surono 3428 mdpl

Puncak gunung Slamet puncak Surono 3428 mdpl

Disatu sisi lega karena sudah sampai, disatu sisi lagi PR karena pagi masih sangat lama. Ku memutuskan menyebrang, kearah puncakan Kawah. Menuruni lembahan, dan naik berbatu. Tiba di puncakan nya, ku sebut puncak 2, dan banyak plang berserakan. Mungkin ini alasan beberapa basecamp pendakian melarang acara pemasangan plang, toh hanya akan jadi sampah. Hingga muncuk slogan : 'Jangan mengotoriku, dengan plat-plat eksistensimu'.

Ku terus berjalan, kearah tenggara. Tepatnya puncak selatan, ku menemukan plangnya namun tak sempat berfoto. Hingga tiba di puncak ujung pukul 05.15, terlihat lembahan panjang ke arah jalur Guci, Tegal. Juga terlihat Ciremai di barat sana. Halo, 2 bulan lalu ku mengunjungimu hehe. Berada di puncakan kawah, dan ku tak berani tuk berlama-lama. Dan segera kembali ke puncakan 2, karena sinar oranye sudah terlihat dari timur sana.

Hijau: jalur yang ku lalui

Namun ku tak memutuskan kembali ke puncak utama, melainkan ke arah utara. Saat di lembahan, ku ambil kiri dan turun ke lembahan lainnya. Luas, seluas lapangan bola, bahkan lebih. Jika kalian pernah membaca kisah MAPAGAMA Februari 2001, kalian pasti sudah dapat bayangan. Serasa di planet lain, dikelilingi tebing-tebing. Ku mendekati bibir kawah dari utara, belerang pun sangat menyengat. Lalu terus lanjut kearah utara, karena ada bendera yang cukup menyita perhatian. Ternyata ini adalah puncak utara, yakni Puncak Kasuser 3369mdpl pukul 6 pagi. Yaitu puncak KASUS Komunitas Pendaki Sisi Utara Gunung Slamet, dengan jalur-jalur Jurangmangu, Gambuhan, Dukuhliwung, Penakir, dan lain-lain.
Hijau: jalur yang ku lalui

Kawah gunung Slamet

Kawah gunung Slamet

Kawah gunung Slamet
Tebing

Kawah gunung Slamet
Bibir kawah gunung Slamet

Puncak Kasuser puncak utara gunung Slamet
Puncak Utara 

Dari puncak utara ke puncak Surono ini terpisah tebing tinggi, mau ga mau ke lembahan lalu naik konvensional lagi. Tiba di puncak 3428 pukul 7, hanya ada 20 orangan pendaki yang semuanya akrab. Ciri khas mendaki saat weekdays ya seperti ini, hanya ada beberapa orang, yang ramah dan hangat. Mereka terheran-heran olehku yang muncul dari sisi lain, padahal kemarin ngecamp nya bareng hahaha. Cerah luarbiasa pagi ini. Langit biru bersih, dan deretan gunung-gunung Jawa Tengah seperti Sindoro-Sumbing, Merbabu, Merapi nampak jelas. Berfoto bersama, dan berjemur berbarengan hahaha.
Kawah gunung Slamet
Puncak Surono diatas sana

Terimakasih Tuhan, telah melancarkan perjalan ku. Bisa tiba di titik tertinggi Jawa Tengah, dan mengeksplorasi di area puncak ini.

Puncak gunung Slamet puncak surono 3428 mdpl

Puncak gunung Slamet puncak surono 3428 mdpl

Puncak gunung Slamet puncak surono 3428 mdpl

In memoriam mapagama
Mengheningkan cipta, mulai.. 

Hingga ku pamit, dan memutuskan turun duluan pukul 07.45. Menuruni perlahan, karena kalau kesandung / terpeleset efeknya tak bisa terbayangkan. Sepanjang perjalanan, ku terpaku di 2 gunung kembar tepat didepanku. Sindoro & Sumbing. Bisakah ku mendakinya tahun ini? Ah semoga sahaja. Plang coklat besar penuh stiker di Plawangan menjadi patokan, dan baru tiba pukul 08.20.

Pukul 08.40 ku sudah kembali ke Pos 7 yang sepi, lautan awannya terlihat sangat indah. Ku packing langsung, sekalian nyemil menghabiskan logistik tuk menjadikan energi. Lagi-lagi, ku menjadi pendaki pertama yang turun hari ini. Meninggalkan pos 7 pukul 10.15, turun dengan ritme cukup cepat.


10.25 di Pos 6, dan 10.45 di Pos 5. Isi air untuk perjalananan turun, dan debitnya tak sebesar kemarin. Cukup banyak yang memutuskan ngecamp disini, karena memang sangat ideal. Selain ada air, dan banyaknya tanah datar membuat kita leluasa memilih tempat tuk buka tenda.

Pukul 11 di Pos 4, karena cerah membuat suasana tak semencekam kemarin. Menuju Pos 3 ku baru menemukan kembali pendaki yang baru naik, semangat mas! Dan pukul 11.20 ku sudah di Pos 3, jaraknya terasa dekat-dekat yaa.

Tepat tengah hari ku mencapai Pos 2, tersisa 2 etape panjang kedepannya. Menuruni dengan ritme tenang dan sabar, juga perlahan karena ransel yang tak mendukung hehe. Tak banyak yang mendaki hari ini, sama seperti kemarin.

12.40 di Pos 1, kabut mulai turun. Mempercepat langkah, sebisaku. Melintasi cemara, mulai terasa lemasnya. Dan memasuki ladang penduduk, hujan pun turun. Ku kira hanya turun kabut / gerimis, taunya pelan tapi pasti berubah deras. Tak ada pilihan lain, selain sedikit berlari. Hingga ku tiba di basecamp Bambangan, pukul 13.20. Total hanya membutuhkan waktu 3 jam untuk turun, hampir 1/2 waktu saat ku naik. Buang sampah, ambil KTP, lurusin kaki, dan bergegas mandi. Basecamp sangat sepi sekali, calon-calon ngojek lagi ini pulangnya.

Opsi pulang yakni ojek 70rb hingga terminal Bobotsari, namun kaki pegel dan kemungkinan kehujanan. Atau mobil namun menunggu orang lagi, sharecost. Dapet 2 orang lagi kakak beradik, dan menunggu lama juga masih belum ada yang turun lagi. Jadinya kita sewa mobil menuju terminal, dengan ongkos 200rb/mobil. Berhasil di nego dengan ongkos 60rb x 3 orang, kita bertiga meninggalkan Bambangan pukul 15.

Setibanya di terminal Bobotsari, kita berpisah. Ku bergegas mencari bus arah Bogor, dan dapet Sinar Jaya seharga 90rb yang 5 menit lagi berangkat. Satset naik bus, dan berangkat meninggalkan terminal pukul 16.20. Selamat tinggal, kawasan plat R. Uniknya bus seluas ini hanya terisi 12 orang saja, ku pun memilih bangku seat 3 di belakang dan langsung tertidur. Istirahat teramat cukup, karena esok langsung kerja kembali. Slamet, si atap Jawa yang sangat bersahabat.


NOTES:
- Jangan memaksakan solo hiking, bila masih ada kawan mu yang bisa diajak
- Baca info sebanyak-banyaknya, dan bertanya sedetail-detailnya tentang gunung yang ingin kamu daki
- Jangan summit kepagian, dingin. πŸ˜‚


CATATAN WAKTU:
23/5/2016
08.00 Start trekking dari basecamp Bambangan
09.15 Pos 1 Pondok Gembirung 1937
10.15 Pos 2 Pondok Walang 2256
11.30 Pos 3 Pondok Cemara 2510
12.10 Pos 4 Pondok Samaranthu 2688
12.50 Pos 5 Samyang Rangkah 2792
13.30 Pos 6 Samyang Katebonan 2909
14.15 Pos 7 Samyang Kendit 3040

24/5/2016
03.00 Summit attack
03.15 Pos 8 Samyang Jampang 3092
03.30 Plawangan 3172
04.15 Puncak Surono/Puncak Slamet 3428
05.15 Puncak Tenggara
06.00 Puncak Kasuser 3369
07.00 kembali ke Puncak Surono
07.45 Turun
08.40 Pos 7
10.15 Turun dari Pos 7
13.20 Basecamp Bambangan


TRANSPORTASI:
Bogor - Bobotsari (pertigaan Serayu Larangan) : Pahala Kencana 100rb + makan malam
Pertigaan Serayu - Basecamp Bambangan : Ojek 50rb
*katanya kalau sharing sewa mobil bisa kena 35-40rb saja
Basecamp Bambangan - terminal Bobotsari : Elf 60rb
Terminal Bobotsari - Baranangsiang : Sinar Jaya 90rb


SEKIAN~

Sabtu, 04 April 2020


PENDAKIAN GUNUNG CIREMAI VIA LINGGARJATI

MENDAKI 15 JAM DEMI MENGGAPAI CIREMAI 3078

23-25 MARET 2016


Kawah gunung Ciremai

Bahkan tak sampai sebulan, sudah kembali mendaki. Karena ada celah tanggal merah, yang berurutan dengan libur off. Pendakian ini bahkan baru direncanakan H-3, dengan penuh perjudian.

Ciremai memiliki 4 jalur resmi, yakni Linggarjati, Linggasana, Palutungan dari Kuningan. Dan Apuy, dari Majalengka. Kita memilih mendaki via Linggarjati, yang konon katanya jalur terberat Jawa Barat.


RABU 23 MARET 2016
Keputusan bahwa tanggal 25 Maret diliburkan (tanggal merah, wafat Isa Al Masih) baru turun malam tadi, yang artinya jadi mendaki. Total 3 hari off, yakni hari ini, esok, dan tanggal 25. Baru pulang kerja pukul 8 pagi, tiba dirumah langsung prepare dan packing. Tidur pukul 11, dan pukul 12 sudah kembali bangun. Makan siang, mandi, lalu berangkat pukul 13.

Setibanya di Meeting Point, yakni terminal Baranang Siang. Kali ini ku mendaki berdua, bersama sohib ditempat kerja yakni Abuzar Gifari. Keliling - keliling tuk mencari bus arah Kuningan, ketemu lah bus nya yakni Luragung : Sahara Pratama. Langsung naik, karena bus mau berangkat. Bus ekonomi, dengan kondisi 1/2 penuh. Dengan ongkos 70rb/orang, bus berangkat pukul 14.30.
Bus Luragung baranang siang

Melanjutkan tidur yang tertunda, ditengah bising dan panasnya bus. Memasuki Cikampek yang padat, ini bus malah atraksi -_- Lewat bahu jalan agar lepas dari macet, dan mepet truk dengan jarak 1 meter dengan bumper belakang. Alamat tidur tak nyenyak, berganti doa-doa yang dibacakan dalam hati. Melintasi Cipali dengan ngebut bukan kepalang, namun tak apa lah toh lengang ini. Ngobrol dengan keneknya, minta diturunkan di Linggarjati. Eh dia juga gatau, alhasil kelewat deh 5KM an. Mau tak mau turun, dan kembali naik Luragung lagi ke gang Linggarjatinya. 

Tepat pukul 19 kita tiba, dan mampir ke minimarket tuk beli konsumsi pendakian esok.
Kita berdua lanjut ngojek, 15rb untuk jarak 3,5KM. Tak ada gapura khusus, atau jalan naik turun khas kaki gunung. Tiba di Basecamp Linggarjati, sepi. Hanya ada para ranger yang sedang main kartu, dan kebetulan ku kenal bang Jamers relasi dari JTI. Charge HP,  istirahatkan badan. Tak ada dingin-dinginnya ini basecamp, dan saat di cek elevasinya hanya 650mdpl. Wew. Ciremai berketinggian 3078mdpl, dan basecamp hanya 650mdpl. 3078-650=2428 atau 2450mdpl, gap elevasi yang akan kita daki esok. Cukup gila memang, ibaratkan mendaki gunung Guntur dari titik 0mdpl saja. Ditambah tak adanya sumber air, tak heran Ciremai via Linggarjati dijuluki jalur terberat se Jawa Barat.


KAMIS 24 MARET 2016
Bangun pukul 3 pagi, bergegas mandi. Ada 2 rombongan lain di basecamp, dan pukul 5 pagi kita sudah ke Pendaftaran. Eh masih tutup ternyata, di ketok-ketok juga tak ada respon. Menunggu beberapa menit tetap nihil, balik lagi ajalah lanjut tidur. Masih penasaran, pukul 7 kita kembali ke Pendaftaran. Eh malah ditolak, minimal bertiga katanya, ciri khas aturan Tamam Nasional Jawa Barat hadeuh. Mana biaya SIMAKSI 50rb, dan mau takmau jadi musafir di rombongan orang. 

Kembali menunggu. Padahal kita sudah memperhitungkan, dengan jarak tempuh yang jauh, perbedaan elevasi yang gila, tak adanya sumber air, dan biaya SIMAKSI yang mahal. Ya kita berencana mendaki sepagi mungkin. Dan, gagal.

Setelah sarapan dan lobi-lobi izin numpang SIMAKSI, kita kembali ke Pendaftaran pukul 08.30. Mengisi surat pernyataan, dan membayar SIMAKSI 50rb. SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sudah termasuk cemilan, cinderamata, dan sertifikat. Total sekarang ber8, yakni ku, Agi, Toecole, Yanto, Begin, Uze, Sule, dan mang Indra. Akhirnya, setelah drama-drama diawal, kita bisa start mendaki pukul 9 pagi.
Basecamp Linggarjati Kuningan gunung Ciremai

gunung Ciremai



Jalan aspal memanjang, melewati rumah dan perkebunan penduduk. Ciremai nampak dari kejauhan. Hah, gunungnya keliatan? Kita benar-benar mendaki dari kuku gunung, bukan kaki. Semakin menanjak, hingga kita tiba di Cibunar 800mdpl pukul 09.20. Pos 1 ini adalah sumber air terakhir, dan minimal perorang membawa 4,5liter.
Pos Cibunar gunung Ciremai via Linggarjati
Pos Cibunar, pintu rimba sekaligus mata air terakhir

Memasuki hutan pinus yang lembab, kemudian berganti ke ilalang yang berkulak kelok. Lebih keatas lagi masih ditemukan ladang penduduk, hingga akhirnya tiba di Pos 2 Leuweung Datar 1100 pukul 10.40. Terus mendaki, ah tak terasa sudah tiba di Pos 3 Kondang Amis 1225mdpl saja. Tanah datar luas disini, cukup untuk puluhan tenda.
7,2KM menjelang Puncak

Ohya posisi kita ini sedang mendaki lewat jalur baru, yang baru dibuka beberapa hari ini. Berpatokan tepat disisi jalur lama, yang terlihat mulai rusak karena terlalu sering terinjak dan terkena hujan. Pukul 11.30 tiba di Pos 4 Pangalap, cukup cepat untuk rombongan yang menerapkan metode trekking santai. Ngebreak nyemil dulu disini, dan mulai trekking lagi nanti tepat tengah hari.

Gila sih jalurnya nanjak terus. Sekalinya ada bonus, pasti didepan sudah ada tanjakan curam menunggu. Hingga pukul 12.40 kita tiba di Pos 5 Kuburan Kuda 1450mdpl, yoi 4 jam trekking baru sampai di elevasi rata-rata basecamp gunung normal XD Gerimis turun perlahan, bongkar Flysheet lanjut ngemie dulu sahaja. Suasana lembab dan turunnya kabut, membuat mager. Namun kita segera cepat sadar, target camp masih jauh diatas sana.
Pos kuburan kuda gunung Ciremai via Linggarjati

Pos kuburan kuda gunung Ciremai via Linggarjati

Pukul 14 kita melanjutkan perjalanan. Jalur semakin menanjak, didominasi akar-akaran. Pos 6 Pamerangan 1650mdpl pukul 14.45, terdapat tanah datar cukup luas disini. Pos 7 Tanjakan Bingbin 1725mdpl pukil 15.15, memasuki etape lebih terjal dengan Pos dengan nama-nama tanjakan kedepannya.
Jalur akar yang menanjak dominan

Seberat beban hidup

Pos 8 Tanjakan Seruni 1825mdpl, aih nanjak poll. Ngopi dulu lah, ngumpulin tenaga lagi kita.
Pos 9 Tanjakan Bapa Tere 2025mdpl, ini sih definisi dengkul ketemu kepala. Tinggi +-5m dengan kemiringan 80°, dengan pijakan akar dan bertumpu di webbing. Tanjakannya dahsyat dah. Terlebih yang membawa ransel full, dijamin gemeter tuh dengkul. Kita tiba disini saat maghrib, trabas terus trekkingnya.

Hingga kita dapet kabar, bahwa mang Toecole lemes dan minta ngebreak. Wajar sih, beliau bawa Tarebbi full dan daypack didepan. Sekalian bongkar Flysheet lagi, gerimis muncul kembali. Masak jengkol balado untuk energi malam ini, sebelum lanjut trekking ditengah gelap. Pukul 21 kita lanjut mendaki, dan 10 menit kemudian tiba di Pos 10 Batu Lingga 2200mdpl. Semangat, 900 meter lagi puncak hahahaha. 

Terus mendaki, vegetasi mulai merenggang. Pos 11 Sangga Buana 1 2500mdpl berhasil pukul kita capai pukul 22. Sesekali terdengar deru angin malam, dan malam yang cerah berjuta bintang. Pos 12 Sangga Buana 2 2650mdpl pukul 23. Dingin perlahan mulai menyelimuti, dan jalur berganti batuan terbuka dengan kemiringan 70°. Mendaki punggung terakhir, dengan sisa-sisa tenaga.


JUMAT 25 MARET 2016
00.15 akhirnya, rombongan tiba di pos terakhir yakni Pangasinan 2800mdpl. Kepalang gila, mau bablas ke puncak namun gaada tempat camp ideal. Kita buka tenda disini, single layer metal dengan doa-doa agar tak hujan hahaha. 

Memaksimalkan sisa waktu, dengan mengistirahatkan tubuh. Pukul 1 pagi kita baru terlelap tibra, karena subuh nanti sudah trekking lagi kita. 15jam total trekking hari ini, dengan rincian 10,5jam mendaki, 4 jam istirahat total, dan 5menit istirahat di tiap pos. Perbedaan elevasi 2150 meter, ditempa jalur-jalur gila Ciremai.

Selamat pagi Ciremai, kita sudah bangun pukul 04.30. 3,5jam tidur, semoga mode 'fast charging' di diri masing-masing berfungsi dengan baik hahaha. Pemandangan subuh yang sangat syahdu. Didepan terlihat gemerlap kota Kuningan dan Cirebon, juga terlihat garis pantai utara Jawa. Di kanan-kiri yakni punggung-punggung terakhir menjelang puncak, dan dibelakang kita yakni etape akhir pendakian menjelang Atap Jawa Barat. Pun langit juga sangat cerah. Diatas masih berjuta bintang, dan rembulan yang dikelilingin pelangi di sekitarnya.

Pukul 5 pagi kita mulai mendaki, jalur terus menanjak dan terbuka. Dan 30menit kemudian kita tiba di puncak Ciremai Linggarjati, menanti sinar jingga yang perlahan muncul dari timur sana. Slamet, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, bahkan Lawu yang kecil nampak jelas terlihat dari sini. Pukul 6 kita mulai melipir bibir puncak, searah jarum jam. Dan tiba di puncak utama Ciremai 3078mdpl pukul 6 pagi, rasanya melegakan sekali.
Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Gunung-gunung Jawa Tengah, tunggu aku... 

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Puncak Ciremai jalur Linggarjati 

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Melipir menuju 3078

Gunung-gunung Jawa Barat nampak jelas, seperti PAGUCI di Garut dan pegunungan Bandung. Sekitar 30 pendaki via Apuy maupun Palutungan yang berada di puncak pagi ini. Slogan di plangnya yakni : 'Bigger Stronger Better' seolah mewakili karakter Ciremai. Cuaca terbuka dan cerah, semoga bertahan hingga sore nanti. Dan foto-foto jangan lupa, juga dengan tim rombongan yang tabah sampai akhir ini hahahahaha.
Gunung-gunung Jawa Barat

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Tim tabah hingga akhir

Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Dengan para sponsor XDD

Namun kita berdua izin pamit duluan, karena esok sudah kerja kembali dan mengejar waktu pulang. Duluan ya, terimakasih banyak. Yang tadinya hanya numpang simaksi, malah jadi saudara di pendakian ini.

Pukul 07.45 kita sudah melipir kawah, dan pukul 08.10 sudah tiba di puncakan Linggarjati. Menuruni menuju Pangasinan bekas terbakarnya Ciremai tahun lalu masih sangat terasa, dan tiba pukul 08.45. Packing hayu, karena perjalanan pulang ini sama panjangnya seperti kemarin.
09.15 start turun, perlahan karena jalur bebatuan dan takutnya rawan longsor. Sambil menikmati pemandangan, karena jalur yang masih terbuka. 09.40 di Sangga Buana 2, dan pukul 10 di Sangga Buana 1. Menerapkan 3 menit break disetiap pos, dan selalu menjaga ritme turun.
Puncak gunung Ciremai 3078 mdpl
Puncak menuju Pangasinan

Pos Pangasinan gunung Ciremai via Linggarjati

Pangasinan menuju Sangga Buana

Mulai memasuki hutan lembab kembali, meski dengkul lemes namun harus tetap semangat hihi. 10.30 di Batu Lingga, dan 11 di Bapa Tere. Pelan-pelan menuruni tanjakan akar nan curam, juga kejam seperti Bapak Tiri. Baru ketemu pendaki yang naik di titik ini, wah kalian cepat juga yaaa?
11.50 di Tanjakan Seruni, bongkar sisa logistik makan siang disini. Ditempat datar dan cukup terbuka, menikmati Elang yang terbang tenang diatas langit kita. 12.10 di Tanjakan Bingbin dan 12.20 di Pamerangan. Mulai sering bertemu pendaki lain. Semangat yaaa semuanyaaa, rasakan apa yang kita rasakan kemarin huahahaha


Tanjakan Bapa Tere gunung Ciremai via Linggarjati

Tanjakan Bapa Tere gunung Ciremai via Linggarjati
Sekejam bapak tiriπŸ™ƒ

12.50 di Kuburan Kuda, ritme turun mulai dikebut. Namun kadang ketahan rombongan yang naik, dan seringnya macet ditanjakan. 13.40 di Kandang Amis, wah ramai sekali. Hayu atuh pada naik, ini baru awal dari pendakian sebenarnya loh. Atau mungkin mereka yang santay-santuy ini mendaki 3hari 2malam kali ya? Tapi persediaan air juga harus banyak? Lah biarin aja lah, urusan mereka juga sih hahaha.

Pukul 14 di Leuweung Datar, terus turun dan ilalang juga perkebunan warga menambah motivasi kita. Terdengar deru motor, yang menandakan sebentar lagi tiba. Saat melintasi hutan pinus, hati sudah berbunga-bunga rasanya. Dan pada akhirnya, kita tiba diperadaban yakni pos Cibunar pukul 14.30. 30menit lebih awal dari target, dengan total 5,5 jam menuruni Ciremai. Manajemen air pun tepat, dan kita segera minum sepuasnya disini.

PR terakhir, kita menuruni jalan aspal nan panjang menuju basecamp. Sungguh, jujur aja. Ini sendi yang menghubungkan betis dan paha, rasanya mau copot. Sesekali turun dengan cara mundur agar tak monoton, yang nyatanya sama aja. 
Ciremai sudah mulai tertutup kabut tebal, awan mendung perlahan turun. Setibanya di pos Linggarjati pukul 15, lapor SIMAKSI dan sampah yang kita bawa, dapet sertifikat deh kita.
Di basecamp kita langsung bergegas mandi, lalu makan sore. Ngojek turun ke jalan utama, dan baru dapet bus Luragung pulang itu pukul 17. 

Diperjalanan pulang, turun hujan dengan intensitas deras. Wah kebayang ya, nasib mereka yang mendaki Ciremai hari ini? Semoga persediaan airnya tercukupi oleh turunnya hujan, hehehe. Hingga kita berpisah, Agi turun di pintu tol Cibinong/Citeureup pukul 21. Ku turun di Baranangsiang, dan finally tiba dirumah pukul 22.

NOTES: Sakit badan dan pegal-pegal kaki baru hilang di H+3 setelah pendakian.

SIMAKSI: 50 ribu

TRANSPORTASI:
Bus Luragung 70rb - Bogor - Kuningan dan sebaliknya
Ojek Linggarjati 15rb

CATATAN WAKTU:
23/3/16
14.00 Terminal Baranang Siang
19.00 Linggarjati Kuningan
20.00 Basecamp Linggarjati Ciremai 650

24/3/16
09.00 Start mendaki
09.20 Cibunar 850 mata air terakhir
10.40 Leuweng Datar 1100
11.00 Kondang Amis 1225
11.30 Pangalap
12.30 Kuburan Kuda 1450
14.00 Pamerangan 1650
15.15 Tanjakan bingbin 1725
16.30 Tanjakan Seruni 1825
17.30 Tanjakam Bapa Tere 2025
21.10 Batu Lingga 2200
22.00 Sangga Buana 1 2500
23.00 Sangga Buana 2 2650

25/3/16
00.15 Pangasinan 2800
05.00 Summit attack
05.30 Puncak Ciremai Linggarjati
06.00 Puncak Ciremai 3078
07.45 Turun
08.45 Pangasinan
09.15 Start turun
14.30 Cibunar
15.00 Basecamp Linggarjati
16.30 Linggarjati 
17.00 Perjalanan bus pulang
21.30 Baranangsiang

KENANG-KENANGAN
Sertifikat gunung Ciremai via Linggarjati